Periskop.id - PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) memastikan pabrik baterai kendaraan listrik miliknya di Karawang, Jawa Barat, telah rampung dibangun. Peresmian pabrik itu tinggal menunggu jadwal dari Presiden Prabowo Subianto.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi kesiapan tersebut. Ia menyebutkan, pihaknya kini tinggal menanti momen yang tepat agar Presiden Prabowo bisa meresmikan fasilitas tersebut.

"Sudah siap diresmikan. Kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden. Pabriknya sudah jadi. Kalau teman-teman mau lihat, silahkan," kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, ditulis Sabtu (8/8).

Pabrik ini disebut bakal menjadi fasilitas produksi baterai berskala besar kedua di Indonesia. Sebelumnya, pabrik baterai milik PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power di Karawang sudah lebih dulu diresmikan pada Juli 2024.

Bahlil menuturkan, dua pabrik itu dibangun di era kepemimpinannya yang berbeda. "Jadi sudah ada dua pabrik baterai yang kita bangun ya. Satu adalah LG di saat saya masih jadi Menteri Investasi. Satu adalah CATL di saat saya sudah jadi Menteri ESDM. Ini yang disebut dengan hilirisasi yang ekosistem baterainya kita bangun semua di negara kita," ungkapnya.

CATIB sendiri merupakan perusahaan patungan antara Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan CBL, anak usaha dari Contemporary Amperex Technology Co.Limited (CATL), produsen baterai terbesar asal China.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menyebutkan kapasitas produksi tahap pertama pabrik ini mencapai 6,9 Giga Watt hour (GWh). Saat ditemui Juni lalu, ia mengungkapkan progres pembangunan pabrik sudah menyentuh 90%.

Aditya menegaskan pabrik tidak akan kesulitan mencari pasar begitu mulai beroperasi karena pembeli sudah tersedia lebih dulu. "Jadi pada prinsipnya buyer sudah siap sehingga nanti ketika siap untuk komersial itu memang kita sudah langsung berproduksi secara komersial. Jadi sebetulnya saat ini trial production juga sudah berjalan di pabrik PT CATIB ini," katanya.

Ia menjelaskan, rantai nilai nikel dari sektor pertambangan hingga menjadi baterai melewati proses panjang, mulai dari penambangan, pengolahan awal, produksi material baterai, sampai akhirnya produksi baterai jadi. CATIB berada di posisi paling hilir dalam rantai tersebut, sehingga menjadi bagian penting dari ekosistem industri nikel terintegrasi.

Pembangunan pabrik di Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC) dimulai pada 29 Juni 2025 lewat peletakan batu pertama atau groundbreaking yang diresmikan langsung oleh Prabowo. Jika pabrik mulai beroperasi bulan ini, artinya konstruksi rampung dalam waktu sekitar 13 bulan.

Proyek ini merupakan bagian dari ekosistem pabrik baterai EV terintegrasi yang diklaim jadi yang terbesar di Asia Tenggara, dengan total investasi mencapai US$5,9 miliar. Ekosistem tersebut terdiri dari enam usaha patungan mulai dari tambang nikel, smelter, hingga produksi material dan sel baterai.

"Kapasitas CATIB ini kan di fase pertama ini 6,9 GWh dan akan segera kita ekspansi ke minimal setidaknya 15 GWh. Kalau kita konversi 15 GWh itu menjadi kendaraan listrik itu kurang lebih ekuivalen dengan sekitar 250 ribu kendaraan listrik," ujar Aditya.