Periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (29/7) sore. Penguatan terjadi di tengah pasar yang mencermati eskalasi konflik Timur Tengah dan menanti arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan, rupiah ditutup menguat 10 poin ke level Rp17.073 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah rupiah sempat melemah hingga 25 poin dari penutupan sebelumnya di kisaran Rp17.083 per dolar AS.

"Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.070 hingga Rp17.130 per dolar AS," kata Ibrahim, Rabu (29/7).

Ibrahim menuturkan, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke pasukan Amerika Serikat di kawasan tersebut. Meski Komando Pusat AS menyatakan seluruh rudal berhasil dicegat, insiden itu dinilai jadi eskalasi baru usai beberapa hari kondisi sempat relatif kondusif.

Optimisme pasar terhadap jalur diplomasi sempat menguat usai pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington. Trump menyebut ada peluang besar bagi kemajuan pembicaraan dengan Iran, tapi harapan itu kembali memudar setelah Teheran membantah berniat melakukan negosiasi maupun menyepakati gencatan senjata.

Kebuntuan upaya membuka kembali Selat Hormuz turut memperburuk situasi, menyusul penolakan Iran atas usulan Oman soal kerangka kerja bersama pengaturan lalu lintas pelayaran di jalur strategis tersebut. Ancaman terhadap infrastruktur energi kawasan juga masih tinggi usai Arab Saudi melaporkan berhasil mencegat serangan drone dan rudal yang menyasar fasilitas minyak di Provinsi Timur.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar turut merespons negatif penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo Subianto. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 5-19 Juli mencatat tingkat kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo sebesar 51,1%, turun 30,1% dalam sembilan bulan terakhir.

Publik yang menyatakan tidak puas atau sangat tidak puas terhadap kinerja Prabowo naik dari 16% pada survei November 2025 menjadi 46,5% pada survei Juli 2026. SMRC menyebut penurunan kepuasan publik ini berbarengan dengan memburuknya penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum.

Perhatian pelaku pasar juga tertuju pada kondisi Bank Indonesia usai pengunduran diri Perry Warjiyo dari kursi Gubernur BI. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) tetap menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sebagai syarat utama mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

BI disebut terus memperkuat bauran kebijakan moneter lewat optimalisasi berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar. Langkah ini tak hanya mengandalkan suku bunga acuan, tapi juga instrumen lain seperti triple intervention di pasar valuta asing melalui skema spot, non-deliverable forward (NDF), maupun domestic non-deliverable forward (DNDF). Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut dioptimalkan lewat fasilitas insentif swap dan DNDF hedging untuk menjaga stabilitas rupiah sekaligus mendorong masuknya aliran modal asing ke pasar domestik.

Ibrahim menambahkan, pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat kebijakan FOMC yang dijadwalkan Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. Keputusan tersebut dinilai bakal memberi arah baru bagi kebijakan suku bunga Federal Reserve ke depan.

"Menjelang peristiwa penting terkait kebijakan bank sentral, para pedagang mengurangi taruhan kenaikan suku bunga Fed di tengah harapan baru akan diplomasi AS-Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan, yang menyebabkan penurunan harga minyak dan meredakan kekhawatiran inflasi," ujarnya.