Periskop.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika 9BMKG) memperluas operasi modifikasi cuaca untuk menjaga pasokan air waduk sekaligus mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan selama kemarau 2026 yang diperparah El Nino kuat.
Operasi dilakukan di kawasan tangkapan air strategis, termasuk Danau Toba, Danau Poso, dan Daerah Aliran Sungai Citarum. Air dari kawasan tersebut dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pertanian, industri, serta pembangkit listrik tenaga air.
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto mengatakan berkurangnya curah hujan dapat menurunkan jumlah air yang masuk ke waduk dan danau.
"Oleh karena itu BMKG bekerja sama dengan para pemangku kepentingan, pengelola waduk, Kementerian Pekerjaan Umum, dan sebagainya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk," kata Tri setelah menghadiri Dialog Nasional Dampak El Nino di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (4/8).
DAS Citarum Jadi Salah Satu Prioritas
Operasi di kawasan tangkapan air dilakukan untuk memanfaatkan potensi awan hujan yang masih tersedia sebelum kondisi atmosfer menjadi semakin kering.
"Saat ini kami sedang melaksanakan operasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, supaya pasokan energi, air, dan pertanian bisa terjaga dengan baik," ujarnya.
DAS Citarum menopang sejumlah waduk besar, antara lain Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Selain menyediakan air baku dan irigasi, ketiga waduk tersebut memiliki peran penting dalam penyediaan listrik bagi sistem Jawa-Bali.
BMKG sebelumnya telah menggelar operasi serupa di Daerah Tangkapan Air Danau Toba. Operasi tersebut dilaksanakan bersama Perum Jasa Tirta I dan PT Indonesia Asahan Aluminium untuk menjaga aliran air bagi kebutuhan domestik, industri, irigasi, dan pembangkit listrik.
Hingga akhir Juli 2026, BMKG telah melaksanakan tiga operasi pengisian waduk dan danau di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah. Operasi berikutnya juga disiapkan di Danau Toba, DAS Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.
Modifikasi cuaca tidak menciptakan awan dari kondisi langit cerah. Teknologi tersebut digunakan untuk mengoptimalkan awan yang secara alami sudah terbentuk agar menghasilkan hujan pada wilayah sasaran.
Pembasahan Gambut untuk Cegah Karhutla
Selain menjaga cadangan air, modifikasi cuaca dimanfaatkan untuk mempertahankan kelembapan kawasan gambut. Ketika hujan berkurang, air di dalam tanah terus menguap sehingga gambut mengering dan menjadi lebih mudah terbakar.
"Untuk mitigasi itu juga dilakukan operasi modifikasi cuaca dengan metode pembasahan lahan-lahan gambut supaya gambut tetap basah, sehingga sulit dibakar, apalagi terbakar," katanya.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menginstruksikan pemerintah memperkuat upaya menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan serta lahan. Arahan tersebut disampaikan dalam rapat terbatas mengenai kemarau dan El Nino di Istana Merdeka pada 28 Juli 2026.
Enam provinsi menjadi fokus utama operasi untuk mencegah karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Operasi dilakukan secara berkala untuk menjaga tinggi muka air dan kelembapan lahan gambut.
Sepanjang 2026, BMKG telah menggelar 17 operasi khusus mitigasi karhutla di Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Kebutuhan mitigasi semakin mendesak karena BMKG mendeteksi 5.019 titik panas hingga 29 Juli 2026. Sebarannya terutama ditemukan di Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau.
El Nino Sudah Masuk Kategori Kuat
BMKG mencatat indeks bulanan Niño 3.4 mencapai 1,56 pada akhir Juni 2026. Angka tersebut telah melewati ambang El Nino kuat, yakni 1,5.
Fenomena itu diperkirakan bertahan setidaknya hingga awal 2027 dengan puncak intensitas berpotensi melampaui kategori kuat. Dampaknya dapat diperburuk oleh kemungkinan berkembangnya Indian Ocean Dipole positif pada September hingga Desember 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pengisian waduk dan pembasahan lahan menjadi dua fokus utama mitigasi.
“Antisipasi kemarau yang bersamaan dengan El Nino di tahun ini ada dua fokus utama. Pertama, terkait dengan ketersediaan air melalui pengisian waduk-waduk dengan metode modifikasi cuaca dan lain sebagainya. Kedua, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembasahan pada lahan-lahan yang rentan atau sudah terbakar,” ujar Faisal.
Hingga pertengahan Juli, sebanyak 509 Zona Musim atau sekitar 54,5% luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus di 48,84% daratan Indonesia dan berlanjut pada September di 25,41% wilayah.
Pertanian dan PLTA Perlu Siapkan Mitigasi
BMKG meminta pengelola waduk menghitung kembali ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat, irigasi, dan produksi listrik. Pengoperasian PLTA perlu menyesuaikan proyeksi curah hujan agar penurunan debit tidak mengganggu pasokan energi.
Pada sektor pertanian, pemerintah daerah dan petani disarankan mempercepat penanaman sebelum defisit air mencapai puncak, menggunakan varietas berumur pendek dan tahan kekeringan, serta memprioritaskan distribusi air pada masa pertumbuhan tanaman yang paling kritis.
Curah hujan tinggi diperkirakan mulai kembali secara bertahap pada Oktober hingga November 2026. Meski El Nino dapat bertahan hingga awal 2027, dampak terbesarnya terhadap Indonesia berlangsung ketika fenomena tersebut bertepatan dengan musim kemarau.
Keberhasilan modifikasi cuaca tetap bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat. Karena itu, operasi tersebut perlu dibarengi penghematan air, pengaturan distribusi waduk, patroli lahan gambut, pemadaman darat, dan larangan pembukaan lahan dengan cara membakar.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar