periskop.id - Perdana Menteri Sarawak Malaysia Abang Johari Openg menyatakan kesiapan pihaknya untuk menjajaki peluang investasi di sektor semikonduktor, termasuk di Indonesia. Langkah ini diarahkan pada pembangunan fasilitas riset berkelas dunia serta penguatan sumber daya manusia (SDM) guna mendukung ekonomi digital ke depan.
Menurutnya, ke depan investasi tidak lagi cukup hanya pada manufaktur, tetapi harus mulai diarahkan ke pengembangan riset dan inovasi.
"Sekarang kita harus bisa memulai berinvestasi, seperti di fasilitas riset berkelas dunia dengan tenaga kerja ahli berkelas dunia," kata Abang Johari kepada media, Jakarta, Selasa (3/2).
Ia menilai, pada 2030 struktur ekonomi global akan semakin condong ke arah ekonomi digital, di mana hampir seluruh sektor bergantung pada teknologi semikonduktor. Mulai dari perangkat komunikasi hingga transportasi publik.
Sarawak sendiri telah mengembangkan Sarawak Microelectronics Design (SMD) dan tengah mengembangkan AI power chip yang ditujukan untuk sektor kesehatan, otomotif, hingga industri luar angkasa.
"Sekarang ini masih analog, karena kita sedang menunggu sertifikat intellectual property (IP) yang nantinya ini bisa digunakan untuk sektor kesehatan, otomotif, hingga industri luar angkasa," terang dia.
Selain semikonduktor, Abang Johari juga menekankan pentingnya kolaborasi Indonesia-Sarawak dalam pengembangan energi hijau di Pulau Borneo.
Menurutnya, ketersediaan energi terbarukan menjadi prasyarat utama bagi industri teknologi tinggi, termasuk semikonduktor dan sistem transportasi berbasis listrik.
"Dan ini menjadi sangat penting seiring dengan isu krisis iklim, dengan itu saya rasa kita bisa bekerjasama untuk membekalkan surplus energi, yang boleh kita kongsi dengan negara-negara ASEAN," jelas Abang Johari.
Dalam kesempatan yang berbeda, Ketua Dewan Pengawas Indonesia Business Council (IBC) Arsjad Rasjid menilai Sarawak berpotensi menjadi salah satu investor strategis di sektor semikonduktor Indonesia.
Menurutnya, Malaysia saat ini relatif lebih maju dalam pengembangan industri semikonduktor, termasuk di Sarawak yang telah menunjukkan fokus kuat pada penguatan ekosistem pendukung.
"Intinya tadi kan seperti Pak Menko (Airlangga Hartarto) mengatakan bahwa mereka, Malaysia itu lebih advanced dibanding kita dalam semikonduktor. Dan khususnya di Sarawak sebagai contoh, mereka sangat fokus di sana," ucap Arsjad kepada media.
Arsjad menjelaskan, salah satu kunci utama pengembangan industri semikonduktor adalah ketersediaan energi yang andal dan berkelanjutan. Dalam hal ini, Sarawak dinilai memiliki keunggulan karena telah membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas besar.
"Khususnya di Sarawak sebagai contoh, mereka sangat fokus di sana. Kunci daripada itu semua kan adalah masalah energinya juga. Nah mereka mempunyai sekarang sudah membangun hydro yang cukup besar," tuturnya.
Ia menekankan, kolaborasi dengan Sarawak tidak hanya relevan dari sisi investasi, tetapi juga sebagai sarana transfer pengetahuan dan pengalaman dalam membangun industri semikonduktor.
"Itu sekarang sudah ada kerjasama juga antara Kalimantan Barat dengan yang namanya Sarawak gitu kan. Nah hal ini penting ke depannya, kita belajar dong sama mereka. Jadi we need to learn, semikonduktor is important," Arsjad mengakhiri.
Tinggalkan Komentar
Komentar