periskop.id - Lima jurnalis Palestina tewas dalam serangan ganda Israel di Rumah Sakit Nasser, Gaza selatan, pada Senin (25/8). Serangan tragis ini menambah jumlah korban jurnalis dalam konflik yang oleh PBB disebut sebagai yang paling mematikan dalam sejarah.
Menurut laporan The Guardian, Selasa (26/8), serangan pertama menghantam sebuah gedung di kompleks rumah sakit, menewaskan salah satunya jurnalis Reuters, Hussam al-Masri. Sekitar 15 menit kemudian, bom kedua menghantam titik yang sama saat para jurnalis dan petugas penyelamat bergegas memberikan bantuan.
Data PBB mencatat, kelima jurnalis ini menambah daftar panjang lebih dari 247 jurnalis Palestina yang telah gugur di Gaza dalam 22 bulan terakhir. Jumlah ini melampaui gabungan korban jurnalis pada Perang Dunia I, Perang Dunia II, Perang Vietnam, perang di Yugoslavia, dan perang AS di Afghanistan.
Serangan di Rumah Sakit Nasser bahkan terekam dalam siaran langsung. Video yang beredar menunjukkan jurnalis dan tenaga medis tak bersenjata mengangkat tangan sesaat sebelum tewas. Insiden ini memicu kecaman global dan seruan untuk melindungi pekerja media di zona konflik.
Kisah-Kisah di Balik Para Jurnalis yang Gugur
1. Moaz Abu Taha (27 tahun)
Seorang jurnalis video lepas, Moaz memulai kariernya dengan merekam perang Gaza menggunakan ponsel karena keterbatasan biaya. Selain meliput, ia juga aktif membantu kasus kemanusiaan. Moaz tewas saat sedang mempersiapkan pertunangannya.
Kakaknya, Adly Abu Taha, menuturkan, “Moaz adalah anak bungsu, yang paling dimanja. Ia sangat mencintai pekerjaannya meski itu bukan karier awalnya. Ia supel dan suka berteman dengan siapa pun.”

2. Hussam al-Masri (48 tahun)
Jurnalis kamera Reuters dan ayah empat anak ini memulai karier sejak tahun 1993. Dikenal berani, ia bahkan pernah meliput dari dalam Rumah Sakit Nasser saat rumah sakit itu dikepung tentara Israel.
Ayahnya, Ezz al-Din, mengungkapkan, “Selama hampir 32 tahun, tak ada sehari pun Hussam tanpa kamera di sisinya. Bahkan saat istrinya sakit kanker, ia tetap bekerja dan mencari cara mengevakuasinya dari Gaza.”

3. Ahmed Abu Aziz (29 tahun)
Dijuluki "jurnalis yang tak pernah berhenti" oleh rekan-rekannya, Ahmed adalah jurnalis lepas untuk Middle East Eye dan Quds Feed. Dalam tulisannya di Middle East Eye, ia pernah menulis, "Rasanya seperti aku sendirian di lapangan ketika begitu banyak rekan tewas."
Ahmed yang menikah pada Juli 2024 ditemukan oleh istrinya, Lurzan.
“Mimpinya kami bisa meraih gelar doktor bersama. Kini aku harus melanjutkan sendirian,” kata Lurzan.

4. Mohammad Salama (24 tahun)
Fotografer dan jurnalis kamera Al Jazeera ini dikenal profesional dan penuh semangat. Ia bergabung pada Februari 2024. Salama telah bertunangan dan tengah merencanakan pernikahan. Ia menjadi jurnalis Al Jazeera ke-10 yang tewas dalam perang di Gaza.

5. Mariam Abu Dagga (33 tahun)
Fotografer dan ibu dari seorang anak laki-laki berusia 13 tahun, Mariam bekerja untuk Associated Press dan Independent Arabia. Karyanya banyak menyoroti isu kemanusiaan. Laporan terakhirnya adalah tentang anak-anak yang mengalami malnutrisi di Rumah Sakit Nasser, tempat ia tewas.
Untuk anaknya, Ghaith, Mariam meninggalkan sebuah surat.
“Kamu adalah cintaku, hatiku, penopangku, jiwaku, dan anakku yang selalu aku banggakan,” tulisnya.

Kisah lima jurnalis ini menjadi simbol betapa berbahayanya meliput perang Gaza, sekaligus mengingatkan dunia akan pentingnya melindungi pekerja media di zona konflik.
Tinggalkan Komentar
Komentar