Periskop.id - Dunia internasional dikejutkan oleh kabar operasi militer kilat yang dilancarkan Amerika Serikat ke jantung pertahanan Venezuela pada awal Januari 2026 ini.
Warga Amerika Serikat (AS) dan masyarakat dunia terbangun dengan berita yang hampir tidak masuk akal bahwa pasukan khusus negeri Paman Sam telah berhasil menangkap dan mengevakuasi pemimpin kuat Venezuela, Nicolas Maduro, bersama istrinya, Cilia Flores.
Keberhasilan operasi yang begitu mulus ini segera memicu spekulasi liar di kalangan diplomat maupun intelijen internasional mengenai siapa sosok yang tega berkhianat dan membocorkan posisi sang presiden.
Berdasarkan laporan dari Fox News pada Sabtu (3/1), muncul kecurigaan kuat bahwa Maduro telah dikhianati oleh seseorang dari lingkaran dalamnya yang selama ini dikenal sangat tertutup.
Lingkaran elite ini mencakup nama nama besar seperti Diosdado Cabello, yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, Kehakiman, dan Perdamaian. Cabello selama ini diyakini memiliki pengaruh dan kekuasaan yang setara dengan Maduro sendiri.
Selain itu, ada pula Vladimir Padrino Lopez, Panglima Angkatan Bersenjata yang telah memegang kendali militer selama bertahun tahun.
Respons Militer yang Dinilai Hampa
Meskipun Cabello dan Lopez segera muncul ke publik untuk mengecam tindakan AS, para analis politik menilai respons mereka sangat hampa. Kejanggalan paling mencolok adalah nyaris tidak adanya perlawanan berarti dari Angkatan Bersenjata Venezuela saat operasi penangkapan berlangsung.
Padahal, Lopez melalui unggahan video di platform X mengecam apa yang ia sebut sebagai agresi militer kriminal dan invasi yang didorong oleh keserakahan terhadap sumber daya minyak serta mineral strategis negara tersebut.
Lopez mengulang narasi lama era Hugo Chavez dengan menyatakan bahwa invasi ini adalah tragedi terbesar bangsa.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pasukan AS dapat masuk dan keluar dengan sangat cepat menggunakan helikopter tempur di wilayah strategis seperti Fuerte Tuna, Caracas, serta negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira tanpa hambatan militer yang signifikan.
Kondisi ini memperkuat dugaan bahwa ada elemen militer yang sengaja membuka pintu bagi pasukan asing.
Tanda-Tanda Akhir Perjalanan Maduro
Kejatuhan Maduro sebenarnya sudah diprediksi oleh banyak pihak sejak lama. Dengan hadiah atau imbalan yang ditawarkan oleh otoritas AS sebesar US$50 juta bagi pihak yang berhasil melengserkannya, ketidakpopuleran domestik yang mencapai titik nadir, serta sengketa pemilu 2024 yang dianggap curang oleh dunia internasional, posisi Maduro sudah sangat rapuh.
Kabar terakhir, Maduro dan Flores dilaporkan berada di kapal perang Iwo Jima milik AS untuk menuju New York. Di sana, ia akan menghadapi persidangan atas dakwaan berat terkait kepemilikan senjata dan perdagangan narkotika.
Jorge Jraissati, Kepala Kelompok Inklusi Ekonomi Venezuela, memuji operasi tersebut sebagai pembuka era baru perdamaian. Menurutnya, Maduro telah mengubah negara menjadi otoriter dan menjerumuskannya ke dalam krisis kemanusiaan yang parah.
Jraissati berpendapat bahwa keberhasilan penangkapan ini menunjukkan adanya intelijen AS yang sangat kuat di lapangan, yang mustahil bekerja tanpa kerja sama aktif dari warga Venezuela di tingkat tinggi.
Perebutan Kekuasaan dan Spekulasi Penerus
Pasca penangkapan, kondisi di Caracas masih penuh ketidakpastian. Wakil Presiden Delcy Rodríguez, yang secara hukum menjadi penerus sementara, menuntut bukti bahwa Maduro masih hidup.
Muncul laporan simpang siur bahwa Rodríguez melarikan diri ke Rusia, namun pihak Moskow membantah kabar tersebut. Sementara itu, rakyat Venezuela mulai bergegas menimbun makanan dan bahan bakar karena khawatir akan terjadinya perang saudara atau perebutan kekuasaan yang berdarah.
Di sisi lain, publik menantikan kembalinya Maria Corina Machado, pemenang Hadiah Nobel terbaru dan tokoh oposisi yang diyakini akan menang telak dalam pemilu demokratis. Namun, keberadaan Machado sendiri masih menjadi misteri setelah ia meninggalkan Norwegia pada pertengahan Desember lalu.
Para pengamat mengingatkan satu hal penting. Gerakan Chavista, sebutan bagi para pendukung Hugo Chavez yang juga mencakup loyalis Maduro, tidak akan menyerah begitu saja.
Nama-nama seperti Cabello dan López kini diyakini tengah menimbang dua pilihan sulit. Tetap bertahan dan bertarung hingga akhir demi melindungi kekuasaan serta kekayaan mereka, atau membuka jalan negosiasi untuk pengasingan ke Havana atau Moskow.
Pertanyaan besarnya pun mengemuka. Apakah mereka merupakan benteng terakhir rezim, atau justru aktor kunci yang diam-diam bersepakat dengan CIA untuk melengserkan Maduro demi menyelamatkan diri mereka sendiri?
Tinggalkan Komentar
Komentar