periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat (AS) tidak memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia, khususnya pada sektor pasar saham dan keuangan.
Hingga saat ini, respons pasar domestik justru menunjukkan sinyal positif. Tercermin dari pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mencatat kenaikan pasca isu geopolitik tersebut mencuat.
Menurut Purbaya, kondisi ini mengindikasikan pelaku pasar belum melihat adanya risiko besar yang dapat mengguncang stabilitas ekonomi Indonesia akibat konflik tersebut. Ia menegaskan dampak langsung ke Indonesia relatif terbatas, baik dari sisi perdagangan maupun sektor keuangan.
“Pasar saham malah naik. Artinya, belum ada dampak besar yang dikhawatirkan akan terjadi dari konflik ini,” ujar Purbaya dalam keterangannya di kawasan Istana Kepresidenan Jakarta, dikutip Selasa (6/1).
Tak hanya pasar saham, Purbaya mengatakan nilai tukar rupiah juga seharusnya berada dalam tren positif. Hal ini berkaitan erat dengan pergerakan harga minyak dunia yang cenderung melemah setelah penangkapan Maduro. Sebagai negara net importir minyak, Indonesia justru berpotensi diuntungkan apabila harga minyak global turun.
"Untuk Rupiah harusnya positif. Karena kalau harga minyak turun, kita kan sekarang net importir, jadi nilai impor juga turun,” jelas Purbaya.
Purbaya mengakui dalam jangka pendek (short run), sentimen pasar global sempat dipengaruhi kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia menyusul insiden penangkapan kepala negara Venezuela tersebut. Namun, kekhawatiran itu dinilai lebih bersifat psikologis dan tidak didukung oleh kondisi fundamental pasokan energi global.
“Kalau di short run mungkin orang berpikir suplai minyak akan turun. Tapi faktanya, Amerika Serikat sudah mengizinkan pengeboran (drilling) di Alaska, jadi suplai global tidak terlalu terpengaruh,” tambah dia.
Lebih lanjut, Purbaya menegaskan kontribusi Venezuela terhadap pasokan minyak dunia saat ini relatif kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak negara Amerika Latin tersebut terus menurun akibat sanksi ekonomi, keterbatasan teknologi, dan minimnya investasi di sektor energi.
Sebagaimana diketahui, secara global Venezuela memang tercatat sebagai negara dengan cadangan minyak terbukti terbesar di dunia, yakni lebih dari 300 miliar barel. Namun, realisasi produksinya jauh dari optimal. Produksi minyak Venezuela saat ini berada di bawah 1 juta barel per hari, atau kurang dari 1% total produksi minyak dunia yang mencapai lebih dari 100 juta barel per hari.
Dengan kondisi tersebut, pasar menilai gangguan politik di Venezuela tidak akan secara material mengganggu keseimbangan suplai dan permintaan minyak global. Selain itu, kebijakan Amerika Serikat yang memperluas aktivitas pengeboran minyak domestik serta produksi stabil dari negara-negara OPEC dan non-OPEC turut meredam potensi lonjakan harga minyak.
Perkembangan ini membuat tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia tetap terkendali. Penurunan harga minyak justru dapat menjadi faktor penopang bagi stabilitas fiskal dan nilai tukar rupiah, mengingat berkurangnya beban subsidi energi dan nilai impor migas.
Dengan demikian, pemerintah memastikan akan terus memantau dinamika global, namun masyarakat dan pelaku pasar diminta tetap tenang karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih kuat dan relatif terlindungi dari gejolak geopolitik tersebut.
Tinggalkan Komentar
Komentar