periskop.id - Dunia internasional dikejutkan oleh kabar operasi militer kilat yang dilakukan Amerika Serikat ke pusat pertahanan Venezuela pada awal Januari 2026. Operasi tersebut dilaporkan berhasil mengevakuasi Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah langkah yang langsung menyita perhatian publik global.

Venezuela sendiri dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Hingga 2024, cadangan minyaknya mencapai 303,22 miliar barel, menempatkan negara tersebut di posisi teratas, melampaui negara-negara Timur Tengah yang selama ini menjadi ikon kekuatan minyak global.

Pengamat Energi Universitas Indonesia (UI), Iwa Garniwa, menilai bahwa dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela berpotensi memengaruhi pasar energi dunia. Namun, ia menegaskan dampak tersebut tidak semata-mata bersifat negatif, melainkan juga membuka peluang strategis bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

"Venezuela adalah salah satu negara penghasil minyak terbesar di dunia, dan ketegangan antara AS dan Venezuela dapat mengganggu pasokan minyak global, sehingga meningkatkan harga minyak," kata Iwa kepada Periskop, Selasa (6/1).

Iwa menjelaskan dampak tersebut dapat dilihat dari tiga aspek utama. Pertama, harga minyak. Kenaikan harga minyak global memang berpotensi meningkatkan biaya impor minyak Indonesia dan menekan inflasi. 

Namun, dampaknya terhadap harga BBM domestik sangat bergantung pada kekuatan fiskal dan kebijakan pemerintah dalam mengelola subsidi energi.

"Berpotensi naiknya harga BBM, namun tergantung kekuatan keuangan negara," jelas Iwa.

Dampak kedua yakni ekonomi. Iwa menyebut sektor transportasi dan industri manufaktur bisa terdampak oleh naiknya biaya energi. Meski demikian, dengan pengelolaan yang tepat, pemerintah tetap memiliki ruang untuk menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional yang tengah diakselerasi.

"Ini cukup berbahaya bagi Indonesia yang sedang berusaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya," tambahnya.

Ketiga, kebijakan energi. Kata Iwa, situasi global ini justru memperkuat urgensi Indonesia untuk mempercepat transisi menuju energi yang lebih mandiri dan berkelanjutan, seperti penghematan energi, optimalisasi biofuel, serta pengembangan energi baru dan terbarukan.

"Pemerintah Indonesia mungkin perlu mempertimbangkan kebijakan energi yang lebih stabil dan mandiri untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak," terang dia.

Dia menambahkan bahwa sjumlah analis memproyeksikan harga minyak Brent akan berada di kisaran USD 60-65 per barel pada kuartal pertama 2026, sementara minyak WTI diperkirakan bergerak di rentang USD 55-65 per barel. 

Ia menilai proyeksi harga yang relatif stabil ini memberikan ruang bagi Indonesia untuk memperkuat strategi energi nasional tanpa tekanan ekstrem dari pasar global.

"Sementara harga minyak WTI diproyeksikan bergerak di kisaran USD55-65 per barel, maka potensi untuk memainkan peranan dalam meningkatkan ketahanan energi nasional," tutup Iwa.