Periskop.id - Dunia secara resmi memasuki babak baru kepemimpinan Amerika Serikat (AS) saat Donald Trump dilantik untuk masa jabatan keduanya pada 20 Januari 2025. Sejak hari pelantikannya, Trump tidak membuang waktu untuk menerapkan doktrin kebijakan luar negeri yang agresif. 

Dengan slogan "Peace Through Strength" atau perdamaian melalui kekuatan, gedung putih di bawah komandonya kembali menunjukkan taring militer secara drastis di berbagai penjuru dunia.

Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun kepemimpinannya di periode kedua ini, rangkaian operasi militer udara dan darat telah mengguncang stabilitas di Afrika, Timur Tengah, hingga Amerika Selatan. 

Puncaknya, dunia terperangah saat AS melakukan tindakan ekstrem yang melampaui sekadar diplomasi ekonomi terhadap Venezuela. Berikut adalah rincian lengkap mengenai kampanye militer Amerika Serikat di tujuh negara yang menjadi sasaran utama pemerintahan Trump.

Somalia

Mengutip laporan Aljazeera pada Rabu (17/12/2025), AS secara drastis meningkatkan kampanye serangan udara militernya di Somalia. 

Sejak Trump kembali menjabat, setidaknya 111 serangan telah dilakukan terhadap kelompok bersenjata, menurut pantauan New America Foundation. Ekskalasi ini dimulai sangat cepat, yakni pada Februari 2025, ketika Trump memerintahkan serangan perdana pemerintahannya di wilayah tersebut.

Intensitas serangan ini mencapai puncaknya saat seorang laksamana senior Angkatan Laut AS menyatakan bahwa AS telah melancarkan serangan udara terbesar dalam sejarah dunia dari sebuah kapal induk. 

Jumlah serangan tahun 2025 saja telah melampaui total gabungan serangan yang dilakukan di masa kepemimpinan George W. Bush, Barack Obama, hingga Joe Biden.

Target utama dari kampanye yang diperkuat ini adalah al-Shabaab, afiliasi al-Qaeda yang menguasai wilayah luas di selatan Somalia, serta kelompok ISIS di Somalia yang terkonsentrasi di timur laut. 

Menurut Africa Center for Strategic Studies, konflik ini menjadi yang paling mematikan ketiga di Afrika dengan total 7.289 korban jiwa dalam setahun terakhir.

Yaman

Di Yaman, kampanye militer Trump menyasar kelompok Houthi dengan intensitas yang melumpuhkan. Serangan dimulai pada 15 Maret dan terus berlanjut hingga 6 Mei 2025. 

Meskipun sempat diumumkan berhenti, AS kembali melancarkan serangan udara susulan pada 17 hingga 18 April yang menargetkan Pelabuhan Ras Issa di Hodeidah.

Berdasarkan laporan Human Rights Watch, serangan ini menghancurkan tangki bahan bakar dan fasilitas bongkar muat yang krusial. Padahal, pelabuhan di kota Hodeidah merupakan jalur masuk bagi 70% impor komersial Yaman dan 80% bantuan kemanusiaan. 

Kelompok riset independen Airwars menemukan bahwa rangkaian serangan di wilayah pelabuhan ini telah menewaskan 84 warga sipil dan melukai lebih dari 150 orang lainnya.

Irak

Provinsi al-Anbar di Irak menjadi lokasi operasi sukses bagi Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM pada 13 Maret 2025. 

Serangan udara tersebut berhasil menewaskan wakil pimpinan ISIS, Abdallah “Abu Khadijah” Malli Muslih al-Rifai, beserta satu anggota lainnya. CENTCOM menyatakan bahwa kedua target tersebut mengenakan rompi bunuh diri yang siap diledakkan saat penyergapan terjadi.

Trump menyambut kabar ini dengan penuh antusiasme melalui unggahan di platform Truth Social keesokan harinya.

“Hari ini, pemimpin ISIS yang menjadi buronan di Irak telah tewas. Ia diburu tanpa henti oleh para prajurit kita yang tak gentar. Hidupnya yang menyedihkan diakhiri, bersama satu anggota ISIS lainnya, melalui koordinasi dengan Pemerintah Irak dan Pemerintah Daerah Kurdistan. DAMAI MELALUI KEKUATAN!,” tulisnya.

Nigeria

Mengutip BBC pada Sabtu (27/12/2025), wilayah barat laut Nigeria tidak luput dari jangkauan militer AS. Trump memerintahkan serangan mematikan terhadap kamp militan ISIS di negara bagian Sokoto, dekat perbatasan Niger. 

Secara kontroversial, Trump menyebut operasi pada 25 Desember tersebut sebagai sebuah “hadiah Natal” dalam wawancaranya dengan Politico.

Meskipun Trump menggunakan istilah hadiah, Menteri Luar Negeri Nigeria Yusuf Maitama Tuggar memberikan klarifikasi bahwa serangan tersebut merupakan operasi bersama yang telah direncanakan cukup lama berdasarkan intelijen Nigeria. 

Tuggar menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak ada kaitannya dengan agama tertentu dan dilakukan murni untuk memutus basis kekuatan militan yang berupaya berkembang di wilayah tersebut.

Iran

Konflik paling berbahaya terjadi di wilayah Iran pada pertengahan 2025. Pada 22 Juni 2025, AS melancarkan serangan udara dan laut yang sangat canggih terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran, yaitu di Natanz, Isfahan, dan Fordow. 

Trump membenarkan langkah tersebut dengan alasan untuk menekan ancaman uranium yang dianggap sudah mencapai tingkat layak senjata.

Pentagon memperkirakan bahwa serangan tersebut telah memundurkan program nuklir Iran sekitar dua tahun. Iran merespons secara simbolis dengan menyerang pangkalan udara AS di Qatar tanpa menimbulkan korban jiwa. 

Krisis ini berakhir setelah Trump mengumumkan gencatan senjata antara Iran dan Israel pada 22 Juni, mengakhiri perang terbuka selama 12 hari yang merenggut lebih dari 1.100 nyawa warga Iran.

Suriah

Sebagai balasan atas tewasnya dua tentara AS di Palmyra sepekan sebelumnya, Trump memerintahkan operasi bersandi “Hawkeye” pada 19 Desember 2025. 

Serangan ini menghantam 70 posisi ISIS di berbagai titik di Suriah. Nama sandi operasi tersebut diambil dari julukan negara bagian asal kedua tentara yang gugur, yakni Iowa atau "Hawkeye State".

Trump kembali menegaskan posisinya melalui media sosial.

“Saya dengan ini mengumumkan bahwa Amerika Serikat memberikan pembalasan yang sangat serius, seperti yang telah saya janjikan, kepada para teroris pembunuh yang bertanggung jawab,” ungkapnya.

Venezuela

Dari seluruh aksi militernya, tindakan terhadap Venezuela menjadi yang paling mengejutkan bagi peta geopolitik dunia. Ketegangan dimulai pada September 2025 ketika Washington mulai menargetkan kapal kapal Venezuela di kawasan Karibia. 

Pada akhir Desember 2025, Trump mengonfirmasi serangan darat pertama terhadap fasilitas dermaga di negara tersebut.

Puncaknya terjadi pada 3 Januari 2026. AS melakukan pemboman besar besaran yang berujung pada penculikan Presiden Nicolás Maduro dari kediamannya. Dalam konferensi pers di resor Maret-a-Lago miliknya di Florida, Trump tidak ragu memuji tim militernya.

“Unjuk kekuatan dan kemampuan militer Amerika yang paling mencengangkan, paling efektif, dan paling kuat dalam sejarah Amerika,” ujarnya mengenai operasi penangkapan Maduro tersebut.

Langkah ini menimbulkan gelombang perdebatan internasional antara mereka yang mendukung jatuhnya rezim Maduro dan pihak yang mengecam pelanggaran kedaulatan negara secara terang terangan oleh AS.