Periskop.id - Saat banyak negara berkembang masih berjuang menjaga momentum pemulihan ekonomi global, Vietnam justru menutup 2025 dengan catatan impresif.
Perekonomian negara Asia Tenggara itu tumbuh sebesar 8,02% sepanjang 2025, sebuah angka yang langsung mencuri perhatian karena bukan hanya tinggi, tetapi juga dicapai di tengah tekanan eksternal yang tidak ringan.
Data tersebut dirilis oleh Badan Statistik Umum Vietnam yang dihimpun oleh The Diplomat pada Selasa (6/1). Pertumbuhan 2025 ini melanjutkan tren positif setelah ekonomi Vietnam tumbuh 7,09% pada 2024, sekaligus menjadi tingkat pertumbuhan tertinggi kedua dalam 15 tahun terakhir.
Capaian ini menegaskan posisi Vietnam sebagai salah satu ekonomi dengan performa paling konsisten di kawasan.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh kinerja kuat sektor jasa, konstruksi, dan ekspor. Dalam konteks global yang sarat ketidakpastian, kombinasi ketiga sektor ini menjadi mesin utama yang mendorong laju ekonomi Vietnam tetap kencang.
Ekspor Melejit, Amerika Serikat Jadi Pasar Kunci
Salah satu pilar utama pertumbuhan Vietnam adalah ekspor. Sepanjang 2025, total ekspor Vietnam melonjak 17% hingga mencapai sekitar US$475 miliar. Angka ini mencerminkan kapasitas industri Vietnam yang terus berkembang serta kemampuannya menembus pasar global.
Ekspor ke Amerika Serikat menjadi sorotan tersendiri. Nilai ekspor Vietnam ke AS meningkat 28%, dari US$119,6 miliar pada 2024 menjadi US$153,2 miliar pada 2025. Kenaikan tajam ini terjadi justru di saat hubungan dagang kedua negara menghadapi tekanan.
Pada tahun yang sama, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan tarif sebesar 20% terhadap produk Vietnam. Kebijakan ini bertujuan mengurangi surplus perdagangan Vietnam dengan AS yang sudah sangat besar dan tercatat sebagai surplus terbesar ketiga di dunia.
Namun, alih-alih menekan laju perdagangan, kebijakan tarif tersebut justru tidak mampu membendung arus ekspor Vietnam.
Surplus Dagang Membengkak Meski Ditekan Tarif
Meski dikenai tarif, ekspor Vietnam ke Amerika Serikat tetap melaju dan mendorong surplus perdagangan ke level rekor. Pada 2025, surplus dagang Vietnam dengan AS mendekati US$134 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat atau USTR, yang memiliki metodologi perhitungan berbeda dari pemerintah Vietnam, mencatat surplus perdagangan Vietnam mencapai US$123,5 miliar pada 2024.
Untuk 2025, USTR belum merilis data resmi, namun statistik terbaru Amerika Serikat menunjukkan surplus Vietnam telah mencapai US$129,5 miliar pada September 2025. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa tren surplus besar masih berlanjut hingga akhir tahun.
Membengkaknya surplus perdagangan ini mencerminkan posisi strategis Vietnam dalam rantai pasok manufaktur global, khususnya yang menghubungkan China dan Amerika Serikat. Vietnam berhasil memanfaatkan celah geopolitik dan ekonomi yang terbuka dalam beberapa tahun terakhir.
Warisan Perang Dagang dan Peran Rantai Pasok
Lonjakan peran Vietnam dalam rantai pasok global tidak terjadi secara tiba-tiba. Selama perang dagang antara pemerintahan pertama Donald Trump dan Beijing, banyak perusahaan multinasional mulai mendiversifikasi basis produksi mereka dari China. Vietnam menjadi salah satu tujuan utama relokasi pabrik, terutama di wilayah utara negara tersebut.
Lokasi geografis Vietnam memungkinkan perusahaan tetap terhubung dengan rantai pasok yang berpusat di China, sekaligus memperoleh akses yang lebih baik ke pasar Amerika Serikat. Akibatnya, ekspor Vietnam ke AS di hampir semua kategori produk melonjak tajam.
Lonjakan inilah yang kemudian mendorong Amerika Serikat menjatuhkan tarif sangat tinggi terhadap Vietnam.
Pada April 2025, dalam pengumuman tarif yang disebut sebagai “hari pembebasan” oleh Presiden Donald Trump, Vietnam dikenai tarif sebesar 46%, salah satu yang tertinggi di dunia. Tarif ini kemudian dinegosiasikan ulang sehingga turun jadi 20%.
Pertumbuhan ekspor Vietnam ke AS berjalan seiring dengan meningkatnya impor dari China. Vietnam mengimpor berbagai komponen, terutama untuk industri elektronik, yang kemudian diolah dan diekspor kembali sebagai produk jadi.
Statistik Vietnam mencatat impor barang dari China mencapai rekor US$186 miliar pada 2025, naik signifikan dari US$144,2 miliar pada 2024. Kenaikan ini memicu defisit perdagangan Vietnam dengan China yang semakin timpang, menciptakan ketidakseimbangan baru dalam neraca perdagangan regional.
Berangkat dari fakta tersebut, Gedung Putih mencurigai adanya praktik transshipment oleh China untuk menghindari tarif tinggi Amerika Serikat dengan memanfaatkan Vietnam sebagai jalur perantara.
Karena itu, meskipun Vietnam berhasil menurunkan tarif dari 46% menjadi 20% sebagai imbalan atas pembukaan pasar domestiknya bagi produk Amerika Serikat, pemerintahan Trump mengumumkan bahwa barang yang terindikasi transshipment tetap akan dikenai tarif lebih tinggi, yakni 40%.
Dengan adanya berbagai dinamika tersebut, pemerintah Vietnam tetap optimistis. Dalam dokumen yang disiapkan Partai Komunis Vietnam menjelang Kongres Nasional ke-14, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahunan setidaknya 10% selama periode 2026 hingga 2030.
Selain itu, Vietnam menargetkan peningkatan PDB per kapita menjadi US$8.500 pada 2030, dari sekitar US$4.700 pada 2024.
Tinggalkan Komentar
Komentar