Periskop.id - Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan keinginannya untuk mendapatkan Greenland, tetapi menepis penggunaan kekuatan untuk mewujudkannya. Trump menginginkan agar AS dapat mengakuisisi wilayah otonom milik Denmark itu, dengan dalih keamanan nasional di tengah meningkatnya pengaruh China dan Rusia.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Rabu (21/1), Trump menyatakan, banyak negara sangat bergantung pada AS untuk perdamaian dan kemakmuran. Ia mendaku kebijakan luar negeri dan ekonomi AS sejak kembali menjabat setahun lalu telah menjaga reputasi tersebut.
"Kami mungkin tak akan mendapatkan apa pun kecuali saya memutuskan untuk menggunakan kekuatan dan tekanan berlebihan, yang sejujurnya tak akan bisa kami hentikan," kata Trump dikutip Kamis (22/1).
"Namun, saya tak akan melakukan itu. Sekarang semua orang berkata, ‘Oh, bagus.’ Itu mungkin pernyataan terbesar yang saya buat, karena orang-orang mengira saya akan menggunakan kekuatan," serunya.
Ia menyakini, tak harus menggunakan kekuatan untuk mendapatkan keinginannya. “Saya tidak ingin menggunakan kekuatan. Saya tidak akan menggunakan kekuatan," kata Trump, sembari mengkritik lagi negara-negara Eropa yang menentang ambisinya atas Greenland.
Trump juga mendesak NATO, agar mengizinkan AS melakukan "negosiasi segera" untuk mencaplok pulau terbesar di dunia itu. Dalam pidatonya yang panjang, Trump juga memuji dirinya sendiri di berbagai bidang lain.
Trump mengklaim "kesepakatan perdagangan bersejarah" dengan Jepang, negara-negara Eropa, dan Korea Selatan telah mendorong kenaikan pasar saham dan pertumbuhan ekonomi.
Ia mengatakan, kesuksesan itu tidak hanya dirasakan di Amerika Serikat, "Tetapi juga di hampir setiap negara yang datang untuk membuat kesepakatan karena, seperti yang Anda ketahui, ketika Amerika Serikat naik, Anda akan mengikuti. Itu benar-benar telah menjadi pola," tuturnya.
Dalam sesi tanya jawab setelah pidato, Trump juga menyebut dirinya memiliki "hubungan yang sangat baik" dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, yang disebutnya sebagai "pria luar biasa".
"Apa yang telah ia lakukan sungguh menakjubkan. Ia sangat dihormati oleh semua orang," kata Trump tentang Xi ketika ditanya soal hubungan AS-China ke depan.
Tolak Negosiasi
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen menolak kemungkinan negosiasi penjualan Greenland kepada Amerika Serikat. "Kami tidak memulai negosiasi dengan mengorbankan prinsip-prinsip dasar. Itu tidak akan pernah terjadi," katanya di Kopenhagen, Rabu (21/1).
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan niatnya untuk segera memulai negosiasi terkait akuisisi Greenland. Ia berkali-kali menyatakan bahwa AS seharusnya menguasai wilayah otonom Denmark itu dengan dalih posisi pulau tersebut strategis bagi keamanan nasional AS.
Namun, pemerintah Denmark dan Greenland telah memperingatkan AS untuk tidak merebut pulau itu, seraya meminta agar integritas wilayah mereka dihormati.
Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pada Rabu mengatakan bahwa ancaman apa pun, terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara anggota Uni Eropa sama sekali tidak dapat diterima.
"Kami ingin berkomunikasi dengan mitra AS kami, tetapi kami harus bersikap tegas.” kata Costa dalam sidang pleno Parlemen Eropa di Strasbourg, menanggapi ketegangan baru-baru ini antara Amerika Serikat dan Denmark terkait Greenland.
Costa menegaskan, ancaman terhadap kedaulatan dan integritas teritorial negara anggota NATO sama sekali tidak dapat diterima. Tapi, harus diakui, persatuan NATO sedang dipertanyakan, di tengah kewajiban melindungi kepentingan anggotanya, Uni Eropa tetap harus berhati-hati menavigasi situasi diplomatik yang rumit dengan sekutu utama, tambah presiden dewan tersebut.
Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark. Namun, Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa Greenland harus bergabung dengan AS, dengan alasan pentingnya strategis pulau-pulau tersebut untuk keamanan nasional.
Tinggalkan Komentar
Komentar