Periskop.id - Pengamat sekaligus Co-Founder Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi menilai, ditunjuknya perwira TNI menempati jabatan Wakil Komandan atau Deputy Commander International Stabilization Federation (ISF) merupakan sebuah garansi terciptanya keamanan bagi masyarakat di Gaza, Palestina.
"Bagi Palestina, kehadiran jenderal TNI di pucuk pimpinan ISF adalah sebuah 'garansi'," kata Fahmi di Jakarta, Jumat (20/2) seperti dilansir Antara.
Menurut Fahmi, keberadaan perwira tinggi TNI pada posisi strategis ISF dapat menjadi penjamin, agar setiap misi yang dilakukan selaras dengan tujuan utama BoP yakni menciptakan perdamaian di Gaza.
Selain itu, posisi strategis ini juga bisa menjadi alat untuk Pemerintah Indonesia dalam memastikan operasi yang dijalankan, tidak merugikan ataupun merenggut hak-hak warga di sana.
"Indonesia dapat mencegah tindakan yang merugikan rakyat sipil, serta memastikan transisi kekuasaan benar-benar diserahkan kepada pemerintahan teknokratik sipil Gaza yang merdeka, bukan dikendalikan oleh kepentingan faksi politik tertentu atau negara asing," jelas Fahmi.
Selain itu, pemberian jabatan ini juga menjadi bukti, Indonesia melalui TNI memiliki posisi tawar yang tinggi di panggung internasional. Status ini semakin memperkuat posisi Indonesia dalam menjalin hubungan bilateral ataupun kemiliteran dengan negara-negara lain.
"Menempati posisi Deputy Commander berarti Indonesia tidak sekadar menjadi 'pasukan lapangan' yang menerima perintah, melainkan duduk di pucuk hierarki strategis yang ikut merumuskan dan mengendalikan arah operasi ISF," kata Fahmi.
Kirim 8.000 Pasukan
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pasukan TNI akan dikirim ke Gaza, Palestina, dalam waktu 1-2 bulan ke depan. Di Gaza, sebanyak 8.000 pasukan TNI akan bertugas bersama Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF), yang anggotanya merupakan gabungan dari negara anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) Gaza.
"Mungkin tidak lama, 1–2 bulan lagi," kata Presiden Prabowo menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui setelah Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Perdamaian (KTT BoP) Gaza perdana di Washington DC, Amerika Serikat, Kamis (19/2/2026) siang waktu setempat.
Prabowo juga menyebut kemungkinan ada tim advance yang akan dikirim lebih dulu ke Gaza. Tim advance dikerahkan dalam jumlah anggota yang tidak terlalu besar karena misi penugasan mereka, di antaranya untuk memetakan wilayah dan menganalisis risiko selama nantinya pasukan dari TNI bertugas bersama ISF.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo juga menyampaikan kembali Indonesia dipercaya sebagai Wakil Komandan ISF. "Mereka minta kita jadi deputy commander," ujar Presiden Prabowo.
Oleh karena itu, Presiden menegaskan Indonesia akan menunjuk perwira terbaik yang nantinya mewakili Indonesia sebagai Wakil Komandan ISF. "Ya dipilih, ya kita cari yang bagus," kata Prabowo.
Sebelumnya, Indonesia menjadi satu dari lima negara anggota Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) pertama yang akan mengirim personel ke Jalur Gaza.
"Saya dengan gembira mengumumkan bahwa lima negara pertama yang akan mengirim personel untuk bertugas dalam ISF yaitu Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania,” ucap Panglima ISF Mayor Jenderal Jasper Jeffers, dalam pertemuan perdana tingkat kepala negara Dewan Perdamaian di Washington DC, Kamis pagi waktu setempat.
Sebagaimana dipantau melalui siaran daring Gedung Putih di Jakarta, Kamis malam, Jeffers juga mengungkapkan, Mesir dan Yordania adalah dua negara anggota Dewan Perdamaian yang bersedia memberikan pembinaan bagi pasukan kepolisian Gaza yang akan dibentuk.
Tinggalkan Komentar
Komentar