Periskop.id - Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, baru saja menorehkan tinta emas dalam sejarah penjelajahan antariksa modern. Melansir Al Jazeera pada Kamis (2/4), misi Artemis II berhasil diluncurkan dari Florida, Amerika Serikat. 

Misi ini membawa empat astronaut dalam perjalanan luar biasa untuk mengelilingi bulan, menandai pertama kalinya manusia melakukan perjalanan melampaui orbit rendah Bumi dalam lebih dari 50 tahun terakhir.

Peluncuran yang berlangsung pada Rabu waktu setempat tersebut merupakan lompatan raksasa dalam rencana jangka panjang NASA untuk mengembalikan eksistensi manusia di permukaan bulan, sekaligus menjadi batu pijakan utama sebelum mengirimkan astronaut ke Mars di masa depan. 

Roket setinggi 32 lantai tersebut meluncur megah dari Kennedy Space Center di Cape Canaveral, disaksikan langsung oleh puluhan ribu pasang mata yang berkumpul di lokasi.

Kru Artemis II yang terpilih untuk menjalankan misi ini terdiri dari tiga astronaut NASA yakni Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, serta satu astronaut dari Badan Antariksa Kanada, Jeremy Hansen. 

Mereka dijadwalkan menempuh perjalanan hampir 10 hari mengelilingi bulan sebelum kembali ke dekapan Bumi.

Sesaat sebelum meluncur, Direktur Peluncuran Charlie Blackwell-Thompson memberikan pesan yang menggetarkan. 

“Dalam misi bersejarah ini, Anda membawa serta semangat tim Artemis, keberanian rakyat Amerika dan mitra kami di seluruh dunia, serta harapan dan impian generasi baru. Semoga sukses, Artemis II. Mari kita mulai,” ujarnya.

Hanya lima menit setelah penerbangan dimulai, Komandan Reid Wiseman memberikan laporan pertama dari dalam kapsul. 

“Kami melihat pemandangan bulan yang indah, dan kami menuju langsung ke sana,” katanya dengan antusias.

Ketegangan Tinggi Menjelang Peluncuran

Meski berakhir sukses, proses menuju peluncuran diwarnai ketegangan yang sangat tinggi. Fase krusial terjadi saat pengisian bahan bakar hidrogen ke dalam roket. 

Tahap ini sebelumnya sempat menyebabkan kebocoran berbahaya dalam uji coba awal tahun ini yang memaksa penundaan jadwal secara signifikan.

Namun, kali ini tim peluncuran berhasil mengisi lebih dari 700.000 galon atau sekitar 2,6 juta liter bahan bakar ke dalam roket Space Launch System (SLS) tanpa kendala kebocoran yang berarti. 

NASA juga sempat berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan beberapa masalah teknis, termasuk sistem penghentian penerbangan roket (flight termination system) yang sempat mengalami gangguan komunikasi sinyal.

Selain itu, para insinyur juga menangani masalah pada baterai sistem abort peluncuran di kapsul Orion karena pembacaan suhu yang tidak sesuai rentang normal. 

Beruntung, semua masalah tersebut berhasil diatasi dengan cepat sehingga tidak menghambat jadwal keberangkatan yang telah ditentukan.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Setelah berhasil lepas landas, para astronaut tidak langsung meluncur ke bulan. Mereka akan menghabiskan satu hingga dua hari pertama di orbit tinggi Bumi untuk melakukan pemeriksaan sistem secara menyeluruh. 

Pengujian ini mencakup sistem pendukung kehidupan, propulsi, navigasi, dan komunikasi kapsul Orion untuk memastikan pesawat benar-benar siap menghadapi ruang angkasa yang jauh.

Setelah semua sistem dinyatakan aman, Orion akan melakukan pembakaran mesin krusial yang disebut translunar injection. Langkah ini akan mendorong pesawat keluar dari orbit Bumi menuju lintasan bulan dalam perjalanan yang memakan waktu beberapa hari.

Pesawat kemudian akan terbang di belakang bulan menggunakan lintasan free-return. Jalur ini sangat efisien karena memanfaatkan gravitasi bulan dan Bumi secara alami untuk mengembalikan pesawat kembali ke rumah dengan kebutuhan bahan bakar minimal. Saat berada di fase ini, kru akan mencapai titik terjauh perjalanan mereka dari Bumi.

Pada fase kepulangan, kapsul Orion akan memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan ekstrem mencapai 40.233 km per jam atau sekitar 25.000 mil per jam. Kapsul dijadwalkan mendarat di Samudra Pasifik, di mana tim pemulihan telah bersiap untuk mengevakuasi para pahlawan antariksa tersebut.

Misi bagi Generasi Baru

Mengingat lebih dari setengah populasi dunia saat ini belum lahir ketika astronaut Apollo terakhir berjalan di bulan, program Artemis diposisikan sebagai babak baru bagi generasi masa kini. Program ini bukan sekadar pengulangan sejarah, melainkan simbol kemajuan teknologi dan inklusivitas global.

Kepala misi sains NASA, Nicky Fox, menekankan pentingnya momen ini awal pekan lalu. 

“Ada banyak orang yang tidak mengingat Apollo. Ada generasi yang belum lahir saat Apollo diluncurkan. Ini adalah Apollo mereka,” pungkasnya.