periskop.id - Anggota Komisi XI DPR RI Melchias Marcus Mekeng menyoroti fenomena kenaikan harga saham yang dinilai tidak wajar dan mendesak langkah tegas dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ia menjelaskan, perusahaan yang baru melakukan Initial Public Offering (IPO) umumnya hanya melepas sekitar 2% saham sebagai free float ke publik, sementara porsi besar tetap dikuasai pemilik usaha.

"Istilah di pasarnya itu kita go public. Tapi yang dikasih ke publik tinggal sedikit. Misalnya 15% atau 20% dikasih ke publik 2%, sisanya mereka pegang si pengusaha itu. Pada akhirnya mereka lakukan rekayasa, menggoreng-goreng harga saham. Tentunya ada kerja sama juga," ujarnya di Kompleks Senayan, Rabu (1/4).

Selain itu, Mekeng menyoroti kasus perusahaan yang harga sahamnya melonjak drastis dalam waktu singkat setelah IPO.

"Ada perusahaan yang dia baru go public Rp200 terus naik jadi Rp8.000 dalam waktu 2-3 bulan. Nah ini perusahaan ini bagaimana, ini nggak masuk akal. Bayangkan kalau Rp8.000 dia tahan, dia bilang kapitalisasi," tambahnya.

Ia menekankan, praktik penggunaan saham sebagai jaminan pinjaman yang berpotensi menimbulkan risiko ganda di pasar modal dan perbankan bukan sekadar manipulasi pasar, melainkan sudah masuk ranah pidana.

"Masuk ke dalam ranah pidana karena kebohongan publik. Nah OJK harus tegas di sini. Dan kalau sudah melakukan tindakan, harus diumumkan supaya pasar percaya bahwa ada kepastian hukum," tegas Mekeng.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti dugaan adanya kongkalikong antara oknum di Bursa Efek dan OJK yang membuat perusahaan bermasalah tetap lolos masuk bursa.

"Ini kebohongan. Bayangkan, kita investor beli perusahaan yang busuk hanya karena kongkalikong orang bursa efek dan OJK meloloskan bahwa perusahaan ini layak di-listed. Ini harus diproses dan diungkap bahwa OJK sudah mengambil langkah tegas," ujarnya.

Mekeng menegaskan pentingnya transparansi untuk menjaga kepercayaan pasar. Ia menilai OJK tidak boleh hanya bersikap reaktif dengan menunggu laporan setelah kerusakan terjadi.

"Kalau Ibu nggak bisa ungkap, nanti saya yang ungkap. Mendingan Ibu yang ungkap. Supaya kapok. Pasar modal ini mesti diberesin. Ini salah satu pilar ekonomi kita. Kalau pasar modalnya nggak dipercaya, bagaimana kita mau bangun bangsa ini?" katanya.

Ia pun berharap OJK berani bertindak tegas terhadap setiap pelanggaran di pasar modal.

"Ini yang membuat MSCI melihat bahwa pasar modal kita ini kaku. Saya berharap Ibu Kiki bersama tim harus berani berubah. Jangan sampai kejadian sebelumnya terulang. Harus berani tegas," pungkasnya.