periskop.id - Perusahaan teknologi Oracle mulai memberitahukan karyawannya terkait rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) yang akan berdampak pada ribuan pegawai. Langkah ini diambil di tengah tekanan terhadap harga saham perusahaan yang terus melemah, seiring besarnya investasi untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Di satu sisi, bisnis utama Oracle menghadapi kekhawatiran pasar terkait persaingan dengan teknologi AI generatif. Di sisi lain, investor juga mulai menyoroti besarnya utang yang diambil perusahaan untuk mendanai ekspansi AI, serta arus kas yang semakin tertekan.
Meski belum diumumkan secara resmi, kabar PHK ini telah dikonfirmasi oleh sumber internal. Hingga Mei 2025, Oracle tercatat memiliki sekitar 162.000 karyawan secara global.
Melansir CNBC International, Kamis (2/4), sepanjang tahun ini harga saham Oracle telah turun sekitar 25%, menjadi salah satu penurunan terbesar di antara perusahaan teknologi raksasa. Meski begitu, Oracle masih mengandalkan bisnis utama database untuk menyimpan dan mengelola data perusahaan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Oracle juga agresif meningkatkan belanja modal untuk membangun pusat data (data center) guna mendukung kebutuhan AI, bersaing dengan perusahaan cloud besar seperti Amazon. Namun, skala Oracle masih lebih kecil dibandingkan para pesaingnya.
Untuk mendukung ekspansi tersebut, Oracle banyak mengandalkan pendanaan dari utang. Pada Januari lalu, perusahaan bahkan mengumumkan rencana penggalangan dana hingga US$50 miliar dari kombinasi utang dan ekuitas. Meski demikian, manajemen menyebut belum ada rencana tambahan penarikan utang baru pada 2026.
Dari sisi bisnis, Oracle mencatat lonjakan besar dalam kontrak pendapatan yang belum diakui (remaining performance obligations/RPO), yang naik 359% menjadi US$455 miliar setelah kerja sama dengan OpenAI senilai lebih dari US$300 miliar.
Analis TD Cowen menilai, langkah PHK Oracle terhadap 20.000–30.000 karyawan berpotensi mendongkrak arus kas bebas hingga US$8-10 miliar.
Meski melakukan efisiensi, manajemen Oracle tetap optimistis bahwa investasi besar di sektor AI akan memberikan hasil dalam jangka panjang. Permintaan terhadap infrastruktur AI, baik GPU maupun CPU, disebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan pasokan yang tersedia.
Tinggalkan Komentar
Komentar