periskop.id - Lonjakan harga bahan bakar di Jerman memicu gelombang baru kejahatan pencurian solar dan bensin di sejumlah wilayah. Aparat penegak hukum mencatat tren ini semakin nyata sejak Maret, terutama di negara bagian timur Saxony-Anhalt.

Melansir Antara, Kamis (9/4), jumlah kasus pencurian bahan bakar di Saxony-Anhalt melonjak tajam: dari 30 kasus pada Februari menjadi 95 kasus pada Maret. Polisi Kriminal setempat menyebut kerugian mencapai sekitar 189.000 euro (Rp3,75 miliar), naik hampir tiga kali lipat dibanding bulan sebelumnya.

Kenaikan harga menjadi pemicu utama. Klub otomotif ADAC melaporkan bahwa harga solar pada Senin lalu kembali menyentuh rekor tertinggi, rata-rata 2,44 euro per liter (sekitar Rp48 ribu). Bensin Super E10 juga naik ke level tertinggi tahun ini, 2,19 euro per liter (Rp43 ribu). 

“Harga yang terus meroket menekan pengemudi dan membuka peluang bagi pelaku kriminal,” tulis harian Bild.

Selama libur Paskah, kasus besar terjadi di Baden-Wuerttemberg. Para pencuri menguras sekitar 6.000 liter solar dari dua lokasi konstruksi: 4.000 liter di Pforzheim dan 2.000 liter di Calw. 

Polisi Pforzheim mencatat sejak Maret ada 29 kasus pengurasan bahan bakar di lokasi konstruksi dan 20 kasus di stasiun pengisian.

Pemerintah Jerman sebenarnya telah mencoba menekan dampak lonjakan harga dengan aturan baru: pom bensin hanya boleh mengubah harga sekali per hari. Namun, kebijakan ini dinilai belum efektif. Harga tetap tinggi, sementara pencurian semakin marak.

Fenomena ini bukan hal baru di Eropa. Data Europol menunjukkan bahwa pencurian bahan bakar meningkat di masa krisis energi 2022, ketika perang Rusia-Ukraina memicu lonjakan harga minyak global. 

Modus yang paling sering terjadi adalah pengurasan tangki kendaraan berat di lokasi konstruksi atau pencurian langsung dari stasiun pengisian.

Selain kerugian finansial, pencurian bahan bakar juga menimbulkan risiko keselamatan. Solar dan bensin termasuk bahan mudah terbakar, sehingga pengurasan ilegal berpotensi memicu kebakaran. 

Polisi Jerman kini meningkatkan patroli di lokasi rawan, sementara asosiasi pengusaha konstruksi mendesak pemasangan sistem pengawasan tambahan.