periskop.id - Dokter spesialis anak sekaligus konselor laktasi, Lucky Yogasatria, menekankan pentingnya pemenuhan zat besi pada bayi sejak dini guna mendukung tumbuh kembang optimal serta mencegah gangguan kesehatan seperti stunting.

Menurutnya, bayi yang baru lahir masih memiliki cadangan zat besi yang diperoleh dari ibu selama masa kehamilan dan melalui ASI. Namun, cadangan tersebut mulai menurun saat bayi berusia 4 hingga 6 bulan.

“Di usia itu, kebutuhan zat besi bayi cukup tinggi, bahkan bisa mencapai 11 miligram per hari. Sementara, pemenuhan dari makanan saja sering kali sulit tercapai,” ujar Lucky saat ditemui wartawan usai acara peluncuran Maltofer di Mayapada Tower 2, Jakarta, Jumat (17/4).

Ia menjelaskan, berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi dapat mulai diberikan suplementasi zat besi sejak usia 4 bulan untuk memastikan kebutuhan hariannya terpenuhi.

Lucky mencontohkan, sumber makanan tinggi zat besi seperti hati ayam memang cukup efektif. Namun, jumlah yang dibutuhkan tetap menjadi tantangan.

“Untuk memenuhi 11 miligram zat besi, bayi membutuhkan sekitar 70 gram hati ayam. Kalau tidak suka, misalnya hanya makan daging ayam biasa, bisa sampai 400–500 gram. Itu terlalu banyak untuk bayi usia 7–8 bulan,” jelasnya.

Selain hati ayam, ia menyebut hati sapi, daging ayam, dan daging sapi sebagai sumber zat besi hewani dengan kandungan tertinggi dibandingkan bahan makanan lainnya.

Dalam kesempatan yang sama, Lucky juga menyoroti keterkaitan antara kekurangan zat besi dan stunting. Ia menjelaskan, stunting terjadi akibat kekurangan nutrisi secara menyeluruh, baik energi maupun protein, yang berlangsung dalam jangka waktu lama.

“Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan. Itu tanda bahwa anak mengalami kekurangan nutrisi kronis, yang juga berdampak pada perkembangan otak,” katanya.

Ia menambahkan, pertumbuhan yang terhambat biasanya diawali dari berat badan yang tidak naik. Jika tidak segera ditangani, kondisi tersebut akan berlanjut pada tinggi badan yang tidak optimal.

Karena itu, Lucky menegaskan pentingnya intervensi sejak dini, terutama dalam dua tahun pertama kehidupan anak.

“Kalau anak sudah mengalami stunting, hampir pasti ada kekurangan berbagai nutrisi, termasuk zat besi. Maka perlu dicek, dan jika kurang, diberikan terapi yang sesuai,” ujarnya.

Ia pun mengimbau para orang tua untuk lebih memperhatikan asupan nutrisi anak, baik melalui makanan maupun suplementasi, guna memastikan tumbuh kembang optimal sejak usia dini.