Periskop.id - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat outstanding pembiayaan emas syariah atau disebut Solusi Emas Hijrah mencapai Rp1,7 triliun per akhir Maret 2026. Angka ini melonjak lebih dari 11 kali lipat secara tahunan (year on year/yoy).

Sejalan dengan hal tersebut, perseroan juga mencatatkan peningkatan signifikan pada jumlah rekening nasabah yakni sebesar 274% (yoy) menjadi 12.061 rekening.

"Capaian ini menunjukkan lonjakan minat nasabah terhadap pembiayaan logam mulia emas, khususnya lewat skema cicilan," kata Direktur Bank Muamalat Ricky Rikardo Mulyadi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Dengan permintaan yang tinggi, Ricky menambahkan, Bank Muamalat semakin agresif dan optimistis terhadap pertumbuhan pembiayaan emas syariah yang bisa mencapai target pada tahun ini.

Menurutnya, kenaikan yang impresif tersebut didorong oleh sejumlah faktor utama. Salah satunya perubahan perilaku nasabah yang sebelumnya cenderung menyimpan dana dan kini mulai mengakumulasi aset produktif termasuk melalui skema angsuran.

Bank Muamalat mendapati minat nasabah yang kuat untuk memiliki emas sebagai instrumen investasi sekaligus aset lindung nilai (safe haven), di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik saat ini.

Faktor lain yang mendorong pertumbuhan pembiayaan Solusi Emas Hijrah yakni digitalisasi proses pengajuan pembiayaan melalui mobile banking Muamalat DIN yang dinilai lebih cepat, praktis, dan fleksibel. Dengan digitalisasi, pembiayaan emas semakin inklusif dan mudah diakses oleh nasabah.

Meskipun agresif dalam pertumbuhan, perseroan memastikan untuk tetap menempatkan prinsip kehati-hatian sebagai prioritas utama. Menurut Muamalat, kualitas pembiayaan Solusi Emas Hijrah dapat dijaga dengan baik di level nol persen hingga akhir Maret 2026.

Capaian ini, catat perseroan, menegaskan keberhasilan dalam mencetak pertumbuhan yang tinggi sekaligus diikuti dengan kualitas aset yang sehat. Ricky menilai prospek pembiayaan emas syariah ke depan masih sangat menjanjikan. 

Ruang Pertumbuhan
Menurutnya, permintaan emas sebagai aset riil cenderung meningkat, terutama di segmen ritel dan emerging middle class. Selain itu, penetrasi pembiayaan emas di Indonesia juga masih relatif kecil, sehingga ruang pertumbuhannya dinilai masih sangat besar.

Dengan basis nasabah ritel consumer yang besar, Bank Muamalat, lanjutnya, menyatakan ingin membangun ekosistem emas yang terintegrasi lewat sejumlah strategi. Langkah strategi ini di antaranya mendorong digitalisasi pengajuan pembiayaan emas melalui Muamalat DIN agar dapat menjangkau nasabah generasi muda, seiring tren transaksi perbankan yang semakin mengandalkan layanan berbasis aplikasi.

Bank Muamalat juga melakukan bundling dengan produk pembiayaan haji, KPR iB Hijrah dan Multiguna iB Hijrah, serta penguatan literasi investasi emas syariah kepada nasabah existing maupun masyarakat luas.

Di samping itu, perseroan menyiapkan perlindungan asuransi dan penguatan mitigasi risiko untuk memberikan rasa aman bagi nasabah dalam berinvestasi emas. Langkah ini, imbuhnya, demi menjaga keseimbangan pertumbuhan bisnis dan kualitas portofolio.

Dengan berbagai strategi tersebut, Bank Muamalat memastikan pembiayaan emas syariah tidak akan berdiri sendiri, melainkan bagian dari solusi keuangan yang lebih luas bagi nasabah.

"Kami meyakini pembiayaan Solusi Emas Hijrah tetap menjadi salah satu pilar utama bisnis consumer Bank Muamalat di tengah potensi pasar yang masih sangat besar," sebut Ricky.