Periskop.id - Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) melaporkan 19 orang tewas akibat gelombang panas di Korea Selatan sepanjang tahun ini. Data tersebut mencakup periode 15 Mei hingga 3 Agustus 2026.
Selain korban jiwa, KDCA mencatat 2.221 orang mengalami gangguan kesehatan akibat suhu panas ekstrem dalam kurun waktu yang sama. Angka tersebut diumumkan lembaga itu pada Selasa (4/8).
"Cuaca panas ekstrem yang mengancam keselamatan jiwa diperkirakan terjadi," kata badan meteorologi Korea Selatan dalam pernyataan pada Selasa pagi (4/8).
Peringatan tersebut disampaikan seiring status bahaya panas tertinggi yang masih diberlakukan di seluruh wilayah Seoul. Status itu berlaku ketika indeks panas diperkirakan mencapai 38 derajat Celsius, atau suhu udara diprediksi menyentuh 39 derajat Celsius maupun lebih.
Presiden Lee Jae Myung sebelumnya sudah meminta pihak berwenang meningkatkan bantuan bagi warga yang terdampak panas ekstrem. Permintaan itu disampaikan Lee saat kondisi cuaca ekstrem masih berlangsung di negaranya.
Situasi cuaca panas di Korea Selatan tercatat semakin memburuk beberapa hari terakhir.
Korea Selatan mencatat rekor suhu tertinggi sepanjang sejarahnya pada Minggu (2/8). Rekor tersebut tercatat di Kota Yangsan, wilayah tenggara negara itu.
Suhu udara di Yangsan saat itu mencapai 42,5 derajat Celsius, tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut.
Lonjakan suhu ekstrem ini menambah beban bagi layanan kesehatan setempat yang sudah menangani ribuan kasus gangguan akibat panas sejak pertengahan Mei.
Pemerintah Korea Selatan hingga kini terus memantau perkembangan cuaca ekstrem sambil menyiapkan langkah antisipasi tambahan bagi kelompok rentan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar