Periskop.id - Iran menolak usulan gencatan senjata dari Amerika Serikat yang dibawa Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi ke Teheran. Penolakan itu muncul di tengah konflik kedua negara yang sudah berlangsung hampir dua pekan.

The New York Times melaporkan penolakan tersebut berdasarkan keterangan pejabat Iran dan Irak yang mengetahui langsung pembahasannya. Al-Zaidi disebut membawa usulan itu setelah sebelumnya bertemu Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih.

Kunjungan Al-Zaidi ke Teheran menjadi lawatan resmi pertamanya sejak menjabat Perdana Menteri Irak pada Mei lalu. Ia datang bersama delegasi tingkat menteri, demikian dikutip Anadolu, Jumat (24/7).

Rincian isi proposal tidak diungkap ke publik. Namun para pejabat Iran menyebut usulan itu merupakan satu-satunya proposal yang saat ini diajukan Washington.

Teheran memilih menampiknya karena proposal tersebut dinilai tidak menyelesaikan persoalan kendali atas Selat Hormuz, jalur vital pasokan energi dunia.

Selama di Teheran, Al-Zaidi juga bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Keduanya membahas hubungan bilateral, perkembangan kawasan, serta upaya memperkuat keamanan dan stabilitas.

Pejabat Iran menyebutkan, kedua negara turut membahas implementasi sejumlah kesepakatan yang sudah diteken sebelumnya. Iran dan Irak sama-sama menyerukan peningkatan kerja sama di bidang perdagangan, energi, transportasi, hingga isu-isu regional lain.

Media Iran melaporkan, Al-Zaidi juga menemui Ketua Parlemen sekaligus kepala negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Di sisi lain, The New York Times melaporkan para pejabat Iran tengah bersiap menghadapi kemungkinan meluasnya konflik apabila Trump merealisasikan ancamannya menyerang Teheran dan infrastruktur penting lainnya. Dua pejabat Iran menyebutkan, serangan semacam itu akan mendorong Teheran memperluas konflik ke tingkat regional.

Perluasan itu disebut termasuk menargetkan Tel Aviv dan meminta kelompok Houthi di Yaman menutup Selat Bab al-Mandab.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan pasukannya kembali melancarkan serangan terhadap sasaran di Iran pada Jumat dini hari. Serangan itu menjadi operasi militer AS malam ke-13 secara berturut-turut.

Otoritas Iran pada Rabu menyatakan serangan AS yang berlangsung sejauh ini telah menewaskan 53 orang dan melukai 592 lainnya.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak Trump pada 8 Juli mengumumkan gencatan senjata dalam nota kesepahaman (MoU) AS-Iran yang diteken bulan sebelumnya sudah tidak lagi berlaku. Sejak saat itu, AS dan Iran saling melancarkan serangan.

Washington menargetkan sejumlah lokasi di wilayah Iran, sementara Teheran mengklaim telah menyerang fasilitas serta peralatan militer AS di beberapa negara kawasan. Konfrontasi ini mengganggu pelayaran di Selat Hormuz dan memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Konflik yang terus berlanjut ini juga menyebabkan penutupan sementara sejumlah wilayah udara, sekaligus meningkatnya peringatan potensi serangan terhadap fasilitas dan kepentingan AS di luar kawasan Timur Tengah.