Harga Emas Dunia Melemah, Investor Alihkan Dana ke Saham
Harga emas dunia turun 0,95% ke US$4.337 per ounce usai penguatan tajam Wall Street dan sinyal suku bunga tinggi dari The Fed jelang akhir tahun.

Periskop.id - Harga emas dunia melemah pada penutupan perdagangan Amerika Serikat, Senin, tertekan penguatan tajam pasar saham dan turunnya imbal hasil obligasi. Emas spot berada di US$4.337,20 per ounce, turun 0,95%, menurut data Kitco, Selasa (22/9).
Harga perak spot turut melemah 0,44% ke posisi US$66,08 per ounce. Analis pasar XS.com Rania Gule menilai, faktor-faktor fundamental yang saling bertentangan tengah membentuk arah pasar emas belakangan ini.
"Faktor-faktor fundamental yang saling bertentangan sedang membentuk pasar," kata Rania Gule dalam analisis pasar hariannya, Selasa (22/9).
Menurutnya, kenaikan imbal hasil obligasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membatasi momentum harga emas. Namun, risiko geopolitik, permintaan bank sentral, serta kekhawatiran fiskal masih menjadi penopang pembelian emas dalam jangka panjang, kata dia.
Penguatan bursa saham AS turut menekan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Indeks S&P 500 naik 1,5% ke 7.764,70, Nasdaq Composite melonjak 2,3% menjadi 27.122,09, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,7% ke 52.048,83.
Penguatan pasar saham terjadi saat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed masih ketat. Bank sentral itu menaikkan suku bunga 25 basis poin pada 16 September, membawa kisaran target menjadi 3,75%-4%, dengan proyeksi median berada di sekitar 4,1% pada akhir tahun.
Sejumlah data ekonomi turut memperkuat ekspektasi tersebut. Penjualan ritel Agustus naik 1,2%, sementara klaim pengangguran awal turun menjadi 196.000, sehingga pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 88%.
Kondisi ini menekan harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun ke kisaran 4,95%-4,96%, namun masih mendekati batas psikologis 5%.
Di pasar energi, harga minyak mentah turun untuk sesi keempat berturut-turut. Brent ditutup di US$100,34 per barel, anjlok 3,4%, sedangkan WTI melemah 4,5% ke US$95,78 per barel, sehingga mengurangi premi risiko geopolitik di pasar komoditas.
Di sisi lain, pasar obligasi AS masih jadi risiko struktural bagi harga emas. Utang pemerintah AS yang dipegang publik mencapai US$31,3 triliun pada April, kurang lebih setara ukuran ekonomi negara itu, sementara belanja bunga bersih tahun fiskal 2025 telah melampaui belanja pertahanan nasional.
Dari sisi teknikal, target kenaikan emas berikutnya berada di kisaran US$4.400-US$4.407,27 per ounce, dengan potensi lanjut ke US$4.443 dan US$4.475 jika ditembus secara berkelanjutan. Sebaliknya, level US$4.334 menjadi batas tekanan jual, dengan target lanjutan di US$4.304 dan US$4.261.
Resistance pertama tercatat di US$4.370,78, disusul US$4.407,27, sementara support pertama berada di US$4.341,90 dan US$4.334. Harga emas pun masih bergerak dalam tarik-menarik antara tekanan suku bunga tinggi dan dukungan dari risiko geopolitik serta permintaan bank sentral.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Harga Emas Dunia, investasi, dan Saham dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.