Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan, kebudayaan Sunda merupakan salah satu unsur penting dalam keberagaman budaya Jakarta. Sejarah panjang perjalanan masyarakat dari Jawa Barat yang membawa budaya Sunda ke Batavia sejak masa kolonial memperkayak kazanah kebudayaan Jakarta.

"Masyarakat Sunda datang untuk bekerja dan menetap membawa bahasa, tradisi, dan kesenian mereka. Kemudian, budaya Sunda tumbuh dan beradaptasi dengan budaya Betawi," kata Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary dalam keterangan di Jakarta, Selasa (21/4). 

Menurut Miftah, sejarah panjang dan keberlanjutan yang selalu terjaga, membuat budaya Sunda di Jakarta terus hidup, tumbuh, dan berkembang sebagai bagian budaya Kota Jakarta hingga saat ini.

Sebagai kota dengan lebih dari 11 juta penduduk dari berbagai daerah, lanjutnya, Jakarta menjadi tempat bertemunya beragam budaya dan kesenian yang dibawa oleh para pendatang.

Hal ini membuat berbagai bentuk kesenian tumbuh dan berkembang di Jakarta, salah satunya dari Sunda. Karena itu, Gedung Kesenian Miss Tjitjih hadir dan terus dikelola dengan baik untuk mewakili masyarakat urban Sunda agar terus berkarya dan menghidupkan ekosistem berkesenian di Jakarta.

Gedung Miss Tjitjih
Adapun penamaan Gedung Kesenian Miss Tjitjih diambil dari nama seorang pemain teater asal Kota Sumedang, Jawa Barat bernama Nyi Tjitjih. Saat berusia 18 tahun, dia bergabung dengan Grup Opera Valencia, kelompok sandiwara keliling asal Jawa Timur pimpinan Sayyed Aboebakar Bafaqih.

Group Opera Valencia yang kemudian berubah nama menjadi Sandiwara Miss Tjitjih kemudian hijrah ke Jakarta tahun 1928. Kemudian, pada tahun 1951, Sandiwara Miss Tjitjih mendapat tempat di Jalan Kramat Raya Nomor 43 Jakarta Pusat.

Di masa itu, kelompok teater itu mencapai puncak keemasan. Hampir setiap hari Sandiwara Miss Tjitjih melakukan pementasan dan menarik minat penonton dari berbagai daerah di luar Jakarta.

Sepeninggal Miss Tjitjih dan Sayyed, kelompok teater ini sempat berpindah tempat. Harun Bafaqih, satu-satunya anak Abu Bakar Bafaqih yang mempunyai jiwa seni, memutuskan untuk meneruskan jejak ayahnya.

Dia memulai kembali Sandiwara Miss Tjitjih dengan membangun sebuah tempat di Jalan Stasiun Angke, Nomor 2 Jakarta Barat. Namun, pada tahun 1987, tempat itu tergusur.

Setelah kelompok itu membentuk yayasan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membangun Gedung Kesenian Miss Tjitjih di daerah Cempaka Baru - Kemayoran, Jakarta Pusat, sebagai tempat pertunjukan rutin Sandiwara Miss Tjitjih 1928.

Kini, gedung tersebut berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Selain digunakan untuk tempat pementasan Sandiwara Miss Tjitjih 1928, Gedung Kesenian Miss Tjitjih juga kerap digunakan untuk latihan teater dan kegiatan seni budaya lainnya.

Miftah menyampaikan, pementasan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 di gedung tersebut, merupakan keragaman budaya yang telah eksis hampir satu abad di Jakarta, yakni sejak tahun 1928.

"Pertunjukan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 terbuka untuk semua kalangan, sebagai sarana aktivasi, edukasi, dan regenerasi, mendorong Jakarta menjadi destinasi budaya berbasis multikultural," tandasnya.