PANDI dan Aceh Jajaki Aksara Jawi Jadi Domain Internet
PANDI dan Pemerintah Aceh menjajaki Aksara Jawi sebagai domain internet, membuka jalan bagi aksara lokal hidup di ranah digital global.

Periskop.id - Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) bersama Pemerintah Aceh menjajaki peluang Aksara Jawi masuk ke ekosistem domain internet global. Rencana ini menyasar penerapan Aksara Jawi sebagai Internationalized Domain Name (IDN) di tingkat Top-Level Domain (TLD).
Ketua PANDI Isnawan menjelaskan, digitalisasi aksara lokal bukan sekadar urusan teknis. Ia menyebutnya sebagai langkah penting untuk merawat keberagaman budaya di dunia maya.
"Internet seharusnya dapat digunakan oleh masyarakat dengan bahasa dan aksara yang mereka kenal. Melalui IDN, kami ingin kekayaan aksara Nusantara tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi hidup dan relevan di ekosistem digital modern," kata Isnawan dalam keterangannya, Selasa (22/9).
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh. Kajian yang disiapkan PANDI mencakup representasi nama domain seperti Indonesia, Indo, atau Nusantara dalam ejaan Aksara Jawi.
Kepala Disbudpar Aceh Dedy Yuswadi menyambut positif inisiatif ini. Ia menyatakan komitmen daerah untuk menyiapkan payung hukum dan koordinasi antar-instansi agar implementasi bisa berjalan mulai tahun depan.
Penggunaan domain beraksara non-Latin sebenarnya bukan hal baru di kawasan regional. Malaysia sudah lebih dulu meluncurkan domain ccTLD .مليسيا yang dikelola MYNIC, administrator resmi domain berkode negara .my.
PANDI mencatat sejumlah tantangan teknis dan kebahasaan yang masih harus dirampungkan. Proses standarisasi memerlukan integrasi karakter Unicode yang konsisten, ditambah mitigasi risiko kemiripan karakter antar huruf.
Kesiapan Universal Acceptance juga jadi pekerjaan rumah, agar nama domain beraksara Jawi bisa dikenali mulus oleh browser, aplikasi, hingga penyedia layanan email global.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif (Bekraf) Muhammad Neil El Himam menilai digitalisasi Aksara Jawi menyimpan potensi ekonomi yang besar. Menurutnya, kehadiran aksara ini di internet bisa memantik lahirnya konten dan karya sastra digital berbasis bahasa daerah.
Neil menambahkan, domain beraksara lokal nantinya bisa berjalan berdampingan dengan domain versi Latin, tanpa saling menggantikan.
"Pasarnya sangat besar karena penutur bahasa daerah mencapai jutaan orang. Jika aksara lokal masuk ke ranah publik digital, akan tercipta peluang usaha baru, mulai dari penulisan, penerbitan, hingga pemasaran karya kreatif," ujar Neil.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Aceh, dan budaya dengan mengeklik tautan.








Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.