Inovasi Silika Petrokimia Gresik Raih Paten Sederhana
Petrokimia Gresik sulap produk samping silika jadi bahan penyaring belerang cair, gantikan bahan impor sekaligus tekan biaya produksi pupuk.

Periskop.id - PT Petrokimia Gresik (Persero) berhasil mengembangkan produk samping silika menjadi bahan penyaring belerang cair dalam proses produksi asam sulfat. Inovasi ini resmi mengantongi Sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob menyampaikan, terobosan tersebut mengubah material yang selama ini jadi tantangan pengelolaan menjadi bahan bernilai guna. Menurutnya, langkah ini juga memangkas ketergantungan perusahaan terhadap bahan penyaring dari pihak luar.
"Selama ini, penyaringan belerang cair menggunakan diatomaceous earth yang diperoleh dari pihak lain. Melalui inovasi ini, kami tidak hanya menemukan solusi atas produk samping silika yang dihasilkan perusahaan, tetapi juga menghadirkan alternatif bahan penyaring yang dapat mendukung efisiensi proses produksi," kata Daconi dalam keterangan resmi perusahaan, Senin (21/9).
Sertifikat paten tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Hukum Republik Indonesia Supratman Andi Agtas kepada Senior Vice President Operasi III Petrokimia Gresik Bambang Ariwibowo. Penyerahan berlangsung dalam kegiatan "What's Up Campus Calls Out" (WCCO) yang digelar Kementerian Hukum Republik Indonesia di Airlangga Convention Center, mewakili manajemen perusahaan.
Daconi menuturkan, pengakuan ini penting karena membuka jalan bagi optimalisasi produk samping secara lebih luas. Ia menilai temuan ini bisa diterapkan pada industri lain dengan karakteristik proses serupa.
"Melalui inovasi ini, kami ingin membangun cara pandang bahwa produk samping tidak selalu menjadi beban pengelolaan. Dengan riset dan inovasi yang tepat, material tersebut dapat dikembangkan menjadi solusi yang mendukung efisiensi dan keberlanjutan proses industri," jelas Daconi.
Silika yang dimanfaatkan ini merupakan produk samping dari proses produksi aluminium fluorida (AlF₃). Setiap bulan, unit produksi tersebut menghasilkan sekitar 990 ton silika dalam bentuk padatan, volume yang membutuhkan area penyimpanan serta pengelolaan khusus.
Kondisi itulah yang mendorong Petrokimia Gresik mencari alternatif pemanfaatan silika pada proses produksi asam sulfat, bahan baku penting dalam pembuatan pupuk. Dalam prosesnya, ada tahap penyaringan belerang cair agar hasil akhirnya bersih dan sesuai standar mutu.
Silika hasil samping produksi aluminium fluorida kini bisa menggantikan peran diatomaceous earth pada tahap penyaringan tersebut. Perusahaan pun tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan bahan penyaring dari luar.
Dari sisi ekonomi, pemanfaatan silika sebagai alternatif bahan penyaring diproyeksikan memberi potensi penghematan hingga sekitar Rp259,6 juta per tahun. Efisiensi ini berasal dari berkurangnya kebutuhan pembelian diatomaceous earth serta optimalisasi silika yang sebelumnya hanya jadi beban penyimpanan.
Manfaat inovasi ini disebut Daconi tidak berhenti di angka penghematan semata. Ia menyebut perusahaan akan terus mendorong riset serupa demi menciptakan nilai tambah dari sisi lain.
"Ke depan, kami akan terus mendorong lahirnya inovasi yang mampu menciptakan nilai tambah bagi perusahaan. Bukan hanya dari sisi ekonomi dan efisiensi, tetapi juga melalui optimalisasi sumber daya dan pemanfaatan produk samping secara lebih berkelanjutan," pungkas Daconi.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai pabrik petrokimia, dan Limbah dengan mengeklik tautan.


Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.