Periskop.id - Ahli kesehatan yang juga Direktur Penyakit Menular WHO Kantor Regional Asia Tenggara 2018-2020 Prof. Tjandra Yoga Aditama mengingatkan, masyarakat pada masa liburan tahun baru ini tidak mengabaikan keluhan batuk. Apalagi jika berlangsung selama dua pekan atau lebih.

"Kalau ada keluhan batuk berkepanjangan, maka gunakan masker saat berada di tempat umum, khususnya di masa liburan yang penuh orang. Kalau memang batuk selama dua atau tiga minggu lebih, maka segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan," kata Tjandra di Jakarta, Jumat (2/1) seperti dilansir Antara.

Menurut dia, batuk selama dua pekan atau lebih dan tidak membaik meskipun sudah diobati dengan obat batuk biasa, dapat menjadi pertanda tuberkulosis (TB). Biasanya, batuk pertanda TB disertai dahak kental berwarna kuning atau hijau, kadang bercampur darah dan disertai gejala lain, seperti penurunan berat badan dan keringat malam.

Pemeriksaan dini gejala TB, termasuk batuk, memungkinkan pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan mampu mencegah penyebaran penyakit tersebut. Kemudian, jika hasil pemeriksaan itu menunjukkan seseorang positif TB, maka dia diharuskan minum obat secara teratur agar pulih dan tidak menjadi kebal obat.

"Untuk pasien TB, ingatlah untuk selalu makan obat setiap hari dengan teratur, walaupun di tengah masa liburan, seperti sekarang," tutur Tjandra.

Asal tahu saja, pada masa libur Natal dan Tahun Baru, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyiagakan sejumlah layanan Kesehatan. Terdiri dari 44 puskesmas dan 31 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) bagi warga yang membutuhkan.

Selain RSUD dan Puskesmas, Dinas Kesehatan DKI juga membuka posko layanan kesehatan di stasiun, terminal, bandara, pelabuhan, serta tempat wisata selama masa libur akhir tahun ini.

Posko kesehatan tersebut melayani pemeriksaan yang merupakan bagian dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG) paket cepat bagi penumpang dan masyarakat. Pemeriksaan meliputi sejumlah skrining mandiri, yakni jiwa, tuberkulosis, aktivitas merokok, dan aktivitas fisik.

Lalu, ada pula skrining status gizi (berat badan, tinggi badan, dan lingkar perut), tekanan darah, gula darah sewaktu, konseling edukasi, serta anamnesa PPOK dan kanker paru. 

Superflu
Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Nihayatul Wafiroh mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengambil langkah cepat dan terukur. Khususnya dalam mengatasi kasus influenza penyebab infeksi saluran pernafasan akut, seperti varian H3N2 atau “superflu”.

"Jika vaksin yang ada tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap subclade K, kami minta Kemenkes segera melakukan uji ulang, transparan dalam publikasi hasilnya, dan menyusun rencana antisipasi vaksin alternatif yang lebih manjur,” kata Ninik, sapaan akrab Nihayatul Wafiroh, Rabu (31/12).

Lebih lanjut, Ninik mendesak Kemenkes melakukan beberapa langkah strategis. Pertama, kata dia, perlu dilakukan evaluasi dan uji ulang efektivitas vaksin influenza saat ini terhadap subclade K. Kedua, transparansi data uji klinis dan hasil surveilans virus influenza di Indonesia.

"Ketiga, saya minta adanya percepatan pengembangan atau pengadaan vaksin alternatif yang lebih efektif bila terbukti vaksin saat ini memiliki efektivitas rendah terhadap varian yang dominan," ujarnya.

Berikutnya, Ninik juga menyinggung perlunya kolaborasi lebih erat antara DPR, Kemenkes, ahli epidemiologi, serta organisasi kesehatan global. Hal ini untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam respons epidemi influenza musiman yang semakin kompleks.

Untuk diketahui, subclade K merupakan bentuk baru dari virus Influenza A (H3N2) yang belakangan mendominasi gelombang kasus flu di sejumlah negara. Termasuk Inggris, Amerika Serikat, Australia, dan Jepang.

Meski otoritas kesehatan dunia menyatakan varian ini tidak secara inheren lebih mematikan, tingkat penularannya yang tinggi membuat lonjakan kasus dan tekanan pada fasilitas kesehatan meningkat pesat.

Menurut data terakhir dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), hingga saat ini di AS diperkirakan telah terjadi jutaan kasus influenza pada musim ini. Dari jumlah itu, puluhan ribu kasus rawat inap sebagian besar terkait H3N2 subclade K.

Sebelumnya, anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K) mengatakan, masyarakat perlu waspadai adanya peningkatan kasus influenza penyebab infeksi saluran pernafasan akut. Di antaranya varian H3N2 yang viral dengan istilah “superflu”.

Nastiti mengatakan, istilah “superflu” pada kasus influenza karena penularannya yang cepat terutama di wilayah atau negara yang dingin. Penyakit ini bisa berbahaya dengan gejala yang ringan sampai berat, karena penularannya melalui droplet atau ludah dari batuk atau bersin serta kontak langsung dengan cairan nafas orang yang terinfeksi.