periskop.id – Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Rabu (14/1/2026), seiring pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meredanya tekanan inflasi di Negeri Paman Sam.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan sore ini rupiah ditutup menguat 12 poin setelah sebelumnya sempat menguat hingga 20 poin. Rupiah berada di level Rp16.865 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di posisi Rp16.877 per US$.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 12 poin, sebelumnya sempat menguat 20 poin di level Rp16.865 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.877,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (14/1).
Meski menguat hari ini, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan Kamis (15/1) masih akan berlangsung fluktuatif. Rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp16.860 hingga Rp16.890 per US$ dan berpotensi ditutup melemah
“Untuk perdagangan besok (15/1), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.860-Rp16.890,” jelasnya.
Dari faktor eksternal, pelemahan indeks dolar AS dipicu oleh rilis data inflasi AS yang berada di bawah ekspektasi pasar. Data indeks harga konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS yang dirilis Selasa menunjukkan CPI inti hanya naik 0,2% secara bulanan pada Desember dan 2,6% secara tahunan.
Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan, sehingga memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS akan memangkas suku bunga pada periode mendatang. Pasar kini memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga pada 2026.
Selain itu, risiko geopolitik global turut menjadi perhatian pelaku pasar. Iran dilanda protes anti-pemerintah yang semakin intensif dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah.
Situasi di Iran juga memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump. Trump memperingatkan kemungkinan tindakan militer serta mengancam akan mengenakan tarif sebesar 25% terhadap negara-negara yang masih berbisnis dengan Iran. Bahkan, Trump secara terbuka mendesak para pengunjuk rasa untuk meningkatkan tekanan terhadap kepemimpinan Iran melalui unggahan media sosial, dengan pernyataan agar mereka “mengambil alih institusi Anda” dan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan”.
Sentimen global juga dibayangi kekhawatiran atas independensi bank sentral AS setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell. Meski perkembangan ini membuat investor gelisah, sejumlah kepala bank sentral dan eksekutif bank besar secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Powell, dengan menekankan pentingnya menjaga otonomi The Fed dari tekanan politik.
Dari dalam negeri, sentimen rupiah turut dipengaruhi oleh proyeksi ekonomi Indonesia ke depan. Pemerintah mencanangkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% pada tahun depan, bahkan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan bisa mencapai 6%.
Pemerintah juga menargetkan defisit anggaran turun ke level 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dibandingkan realisasi 2025 sebesar 2,82% dari PDB. Target tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan pendapatan negara yang kuat sebesar 14,4% serta kenaikan belanja pemerintah sebesar 11,3%.
Namun demikian, Ibrahim menilai sebagian ekonom memperkirakan defisit anggaran berpotensi lebih tinggi dari target pemerintah. Untuk hasil yang lebih realistis, defisit diperkirakan berada di kisaran 2,8% hingga 3,0% dari PDB.
“Pertumbuhan pendapatan negara diperkirakan hanya satu digit. Meski begitu, pendapatan tetap akan ditopang oleh peningkatan bertahap konsumsi dan investasi domestik, serta potensi dorongan dari kenaikan harga komoditas global,” paparnya.
Sementara dari sisi belanja, pengeluaran pemerintah dinilai berpotensi kembali berada di bawah target, terutama pada pos transfer ke daerah, seiring berlanjutnya reformasi kebijakan pelaksanaan anggaran.
Di sisi lain, Ibrahim menyoroti optimisme Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia 6% pada 2026 bukan target yang sulit dicapai. Pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi, salah satunya percepatan atau akselerasi anggaran agar belanja fiskal dapat digelontorkan sejak awal tahun.
Selain itu, iklim usaha diperkirakan mulai membaik sehingga dapat mengembalikan kepercayaan investor, termasuk investor asing. Kepercayaan tersebut diharapkan meningkat seiring kebijakan penyelesaian hambatan investasi atau debottlenecking melalui pembentukan satuan tugas khusus yang menangani aduan para pelaku usaha.
Tinggalkan Komentar
Komentar