periskop.id - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia masih tergolong tinggi. Setiap tahun, tercatat sekitar satu juta kasus TBC dengan angka kematian mencapai 136 ribu jiwa.

Hal tersebut disampaikan Budi saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di Kawasan Parlemen, Senayan. Ia menegaskan, tingginya angka kematian menunjukkan TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

“Setiap saya ngomong lima menit, yang meninggal dua jiwa di Indonesia,” ujar Budi, Senin (19/1).

Budi menjelaskan, obat TBC sebenarnya sudah tersedia dan sangat ampuh. Namun, kendala utama dalam penanganan penyakit ini adalah banyaknya pasien yang tidak menuntaskan konsumsi antibiotik sesuai ketentuan.

Menurut Budi, salah satu penyebab kasus TBC tidak tertangani dengan baik adalah stigma di masyarakat. Banyak penderita enggan memeriksakan diri karena merasa malu jika diketahui mengidap TBC.

“Orang Indonesia tuh malu kalau ketahuan tuberkulosis, jadi skriningnya jelek, padahal ini penyakit menular,” kata Budi.

Saat ini, Kementerian Kesehatan tengah memasifkan skrining TBC di berbagai daerah. Budi menyebut, sejak dirinya menjabat pada 2020, angka penemuan kasus masih jauh dari estimasi Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO.

“Dari estimasi WHO sekitar 240 ribu, yang ketahuan cuma 48 ribu,” ujarnya.

Budi juga menanggapi tren peningkatan angka kasus TBC yang terdeteksi. Menurutnya, kenaikan tersebut justru merupakan indikator positif karena menandakan semakin banyak kasus yang ditemukan dan dapat segera diobati, sehingga mencegah penularan lebih luas.

“Kalau data pasien tuberkulosis di Indonesia meningkat justru lebih baik. Artinya penyakitnya ketahuan dan dapat diobati segera,” ujar Budi.

Menurut data Kemenkes, per Desember 2025, terdapat 860 ribu kasus tuberkulosis di Indonesia. 
“Jumlah ini sudah lebih tinggi dari tahun lalu,” ujar Budi.