periskop.id - Campak masih menjadi ancaman nyata bagi anak-anak di DKI Jakarta. Dokter Spesialis Anak RSUD Pasar Rebo, dr. Arifianto, Sp.A, Subsp.Neuro(K), menegaskan bahwa kasus campak belum hilang karena banyak anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

Ia mengungkapkan, hampir setiap pekan dirinya menangani pasien anak yang harus dirawat intensif atau bahkan menggunakan ventilator akibat komplikasi campak. 

“Campak di DKI belum berakhir sampai sekarang. Setelah diperiksa, mayoritas tidak lengkap imunisasinya,” ujarnya dalam siniar bertema “Benarkah Anak Paling Rentan Terkena Flu?” dilansir dari Antara, Rabu (21/1).

Menurut Arifianto, kondisi ini menjadi bukti kuat bahwa vaksinasi berperan penting dalam mencegah penyakit. “Campak itu penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin. Vaksin harus lengkap. Imunisasi lengkap terbukti meningkatkan daya tahan tubuh,” tegasnya.

Ia menjelaskan, anak-anak yang belum pernah terpapar virus atau bakteri harus dikenalkan dengan vaksin agar antibodi terbentuk. Dengan begitu, ketika terinfeksi, tubuh mampu melawan penyakit. Imunisasi campak rubela sendiri diberikan dalam tiga tahap: dosis pertama saat anak berusia 9 bulan, dosis penguat pada usia 18 bulan, dan dosis lanjutan ketika anak berusia 6–7 tahun.

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta menunjukkan, pada September 2025 terdapat 218 kasus campak tanpa laporan kematian. Kelurahan Kapuk menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 38 anak positif. Sebagai respons, Dinkes melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI), yaitu imunisasi massal yang menyasar 9.000 anak. Hingga September 2025, cakupan imunisasi baru mencapai 77,22%.

Riset global mendukung pernyataan Arifianto. Menurut WHO, campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia dengan tingkat penularan mencapai 90% pada individu yang belum divaksin. UNICEF juga mencatat bahwa cakupan imunisasi campak di Indonesia sempat menurun selama pandemi COVID-19, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB).

Kondisi ini menjadi alarm bagi masyarakat. Tanpa vaksinasi lengkap, anak-anak berisiko tinggi mengalami komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga ensefalitis.