periskop.id - Harga emas melonjak menembus level US$4.800 per ons untuk pertama kalinya pada Rabu, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven di tengah aksi jual besar-besaran aset Amerika Serikat (AS). Tekanan pasar dipicu memanasnya ketegangan antara AS dan NATO terkait Greenland.
Melansir Antara, Rabu (21/1), harga emas spot tercatat naik 2,1% ke level US$4.862,46 per ons pada pukul 04.46 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi di US$4.865,73 per ons pada sesi perdagangan yang sama. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari menguat 2% ke US$4.861,20 per ons.
Analis pasar senior Capital.com, Kyle Rodda, menilai lonjakan harga emas dipicu oleh merosotnya kepercayaan terhadap AS. Hal ini menyusul langkah Presiden AS Donald Trump pada akhir pekan lalu yang menaikkan tarif terhadap negara-negara Eropa serta meningkatkan tekanan untuk mengambil alih Greenland.
“Ini adalah hilangnya kepercayaan terhadap AS yang disebabkan oleh langkah Trump selama akhir pekan untuk mengenakan tarif pada negara-negara Eropa dan meningkatkan paksaan dalam upaya mengambil Greenland. (Kenaikan harga emas) mencerminkan ketakutan terhadap ketegangan geopolitik global,” ujar Rodda.
Pada Selasa, Trump menegaskan tidak akan mundur dari ambisinya untuk menguasai Greenland. Ia bahkan menolak menyingkirkan opsi penggunaan kekuatan untuk mengambil pulau Arktik tersebut, sekaligus melontarkan kritik keras terhadap sekutu-sekutu NATO.
Trump mengatakan bahwa pihaknya akan mencari solusi yang membuat NATO merasa puas dan sekaligus menguntungkan bagi Amerika Serikat. Di sisi lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan Eropa tidak akan tunduk pada intimidasi. Dalam pernyataannya di Davos, Macron melontarkan kritik tajam terhadap ancaman Trump terkait pengenaan tarif tinggi jika Eropa tidak mengizinkan AS mengambil alih Greenland.
Kepala global pasar institusional ABC Refinery, Nicholas Frappell, mengatakan menembus level US$4.800 semakin memperkuat keyakinan pasar bahwa investor enggan melepas emas sebelum harga mencapai US$5.000 per ons.
“Saya pikir tembusnya level US$4.800 justru memperkuat pandangan tersebut, bahwa orang-orang tidak ingin menjual emas sebelum US$5.000. Ini merupakan kombinasi dari pendukung tradisional emas, yakni utang yang meningkat, dolar yang melemah, dan ketidakpastian geopolitik,” ujar Frappell.
Sementara itu, indeks dolar AS (.DXY) berada di dekat level terendah dalam hampir satu bulan. Pelemahan ini terjadi setelah ancaman Gedung Putih terkait Greenland memicu aksi jual luas pada aset AS, mulai dari mata uang, saham Wall Street, hingga obligasi Treasury.
Dolar yang melemah membuat komoditas berbasis dolar AS menjadi lebih murah bagi pembeli luar negeri.
Untuk logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,1% ke US$94,48 per ons, setelah mencetak rekor tertinggi US$95,87 per ons pada Selasa. Harga platinum spot melemah 0,5% ke US$2.449,98 per ons, setelah sempat menyentuh rekor US$2.511,80 per ons pada hari yang sama. Adapun palladium naik tipis 0,1% ke US$1.866,46 per ons.
Tinggalkan Komentar
Komentar