periskop.id - Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyatakan kanker masih menjadi penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia. Kanker payudara menempati posisi pertama dengan angka tertinggi meninggal dunia akibat kanker.
“Kalau bicara kanker payudara, ini adalah pembunuh nomor satu akibat kanker pada wanita di Indonesia,” ujar Menkes saat acara World Cancer Day di South Quarter, Jakarta, Rabu (4/2).
Untuk menekan angka kematian tersebut, pemerintah mulai menjalankan program pemeriksaan kesehatan gratis sejak tahun lalu. Program ini menyasar seluruh penduduk Indonesia dan mencakup skrining kanker payudara.
“Untuk 280 juta rakyat Indonesia, ini hadiah dari Bapak Presiden Prabowo Subianto. Pemeriksaan kesehatan gratis dilakukan setiap tahun, termasuk skrining kanker payudara,” katanya.
Menkes mengungkapkan, pada tahun lalu pemerintah menargetkan 40 juta perempuan untuk menjalani skrining kanker payudara. Namun, realisasi pemeriksaan masih rendah.
“Dari target 40 juta perempuan, yang datang ke puskesmas untuk skrining baru sekitar 4 juta. Ini pekerjaan rumah besar kita untuk terus mengedukasi ibu, tante, dan saudara kita agar tidak takut diperiksa,” ujarnya.
Dari sekitar 4 juta perempuan yang menjalani skrining, sebanyak 400 ribu di antaranya memerlukan pemeriksaan lanjutan menggunakan ultrasonografi (USG). Pemerintah, kata Menkes, telah mendistribusikan 10 ribu alat USG dan melatih dokter layanan primer untuk mendukung deteksi dini kanker payudara.
“Dari pemeriksaan lanjutan itu, kita menemukan sekitar 1.700 perempuan yang berpotensi menderita kanker. Ini belum sempurna, tapi setidaknya mereka punya peluang hidup lebih panjang karena terdeteksi lebih awal,” tuturnya.
Selain kanker payudara, Menkes juga menyoroti kanker serviks sebagai pembunuh kedua perempuan di Indonesia. Ia menekankan bahwa kanker serviks merupakan satu-satunya kanker yang sudah memiliki vaksin pencegahan.
“Kanker serviks itu pembunuh nomor dua pada wanita. Ini satu-satunya kanker yang punya vaksin, yaitu vaksin HPV,” katanya.
Pemerintah telah meluncurkan program nasional vaksinasi HPV sejak 2023 dengan target 2,1 juta anak perempuan usia 11 tahun. Hingga kini, capaian vaksinasi telah mencapai sekitar 1,9 juta penerima.
“Tahun ini kita mulai program kejar untuk usia 15 tahun yang sebelumnya belum mendapat vaksin. Dan pada 2027, vaksinasi akan diperluas ke anak laki-laki usia 11 tahun untuk mempercepat pencegahan kanker serviks,” ujarnya.
Menkes menegaskan bahwa kunci utama menurunkan angka kematian akibat kanker payudara dan serviks adalah deteksi dini serta pencegahan. Ia mengimbau perempuan Indonesia untuk rutin melakukan skrining di puskesmas.
“Kanker itu penyakit yang bisa diobati. Jangan takut. Yang paling penting adalah deteksi dini. Datang ke puskesmas, lakukan skrining setiap tahun,” pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar