Periskop.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, dalam empat tahun terakhir skrining malaria di Tanah Papua meningkat hingga 337%. Dari 983 ribu pemeriksaan pada tahun 2021 menjadi 4,3 juta pemeriksaan pada 2025.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman di Jakarta, Selasa, mengatakan, dari pemeriksaan tersebut penemuan kasus meningkat 136%. Jika pada tahun 2021 terdapat sekitar 282 ribu kasus ditemukan, pada 2025 ditemukan 667 ribu kasus.

"Ini menunjukkan bahwa peningkatan laporan kasus bukan semata karena penularan meningkat, tetapi karena sistem deteksi semakin baik dan lebih banyak infeksi yang sebelumnya tidak terlaporkan kini berhasil ditemukan dan diobati," tuturnya. 

Dia menyebutkan cakupan pemeriksaan atau Annual Blood Examination Rate (ABER) di Papua meningkat sangat signifikan, dari sekitar 22% pada 2021 menjadi sekitar 74% pada 2025. Artinya, semakin banyak masyarakat yang diperiksa sehingga lebih banyak kasus berhasil ditemukan lebih dini.

"Di saat yang sama, positivity rate justru menurun dari sekitar 29% menjadi sekitar 16%," ucapnya. 

Terkait tren malaria, katanya, pada 2025 ditemukan 699.992 kasus dengan 124 kematian, dan pada 2026 per 23 Februari ditemukan 53.246 kasus dengan 20 kematian. Ada 412 atau 80% dari 80% kabupaten dan kota sudah berhasil mencapai eliminasi malaria.

Dia menyoroti komitmen pemerintah untuk terus memperkuat diagnosis cepat, pengobatan tepat, serta pengendalian vektor untuk menurunkan penularan secara berkelanjutan di Papua.

Oleh karena itu per tahun ini skrining malaria melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga akan dimulai secara bertahap di daerah endemis tinggi. Skrining dilakukan dengan mempertimbangkan beban penyakit, kesiapan layanan, dan kapasitas diagnostik daerah.

"Fokus sasaran awal integrasi CKG anak usia sekolah," ujar Aji.

Secara nasional, lanjutnya, tren malaria di Indonesia menunjukkan kemajuan eliminasi di sebagian besar wilayah, tetapi beban kasus masih sangat terkonsentrasi di Tanah Papua. Sekitar 95% kasus nasional berasal dari wilayah Papua, sehingga kawasan ini menjadi episentrum malaria Indonesia.

"Sebagian besar kabupaten/kota Indonesia sebenarnya sudah mencapai eliminasi malaria, menunjukkan kemajuan signifikan program nasional. Namun di Tanah Papua baru 3 dari 42 kabupaten mencapai eliminasi malaria," imbuhnya. 

Obat Malaria
Sementara itu, pihaknya menyebutkan obat malaria masih bekerja sangat baik untuk mengatasi penyakit yang banyak ditemukan di wilayah Papua tersebut. Pihaknya juga terus melakukan pemantauan berkala, guna menindaklanjuti apabila ditemukan penurunan efektivitas obat di wilayah tertentu.

"Studi efikasi terapi oleh Kemenkes bersama WHO dan mitra pada 2024–2025, obat utama Dihydroartemisinin-Piperaquine (DHP), serta alternatif Artesunate-Pyronaridine (ASPY) dan Artemether-Lumefantrine (AL), masih bekerja sangat baik. Tidak ditemukan keterlambatan pembersihan parasit (indikator utama resistansi)," tuturnya. 

Hal tersebut dikemukakan merespon Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan, di sejumlah belahan dunia, parasit-parasit penyebab malaria semakin tahan atau resisten terhadap terapi-terapi kombinasi berbasis Artemisinin (ACT). 

Jika resistensi tersebut terjadi di Indonesia, maka obat-obatan itu kehilangan efektivitasnya, membahayakan pasien, serta meningkatkan risiko penyebaran. Indonesia sendiri memiliki komitmen untuk mencapai eliminasi malaria pada 2030.

Sebelumnya, Peneliti Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Rintis Noviyanti menegaskan, Papua menjadi kunci keberhasilan Indonesia mencapai target eliminasi malaria pada 2030.

Dalam diskusi tentang eliminasi malaria di Jakarta, Kamis, Rintis memaparkan data yang menunjukkan sebanyak 86–90% kasus malaria nasional terkonsentrasi di wilayah tersebut. 

Rintis menyebutkan tantangan terbesar dalam upaya pemberantasan malaria adalah penanganan Plasmodium vivax. Parasit ini mampu membentuk sel dorman di hati atau hipnozoit yang tidak terdeteksi oleh pemeriksaan mikroskopis maupun tes cepat.

"Saat ini belum ada tes yang akurat untuk mendeteksi hipnozoit laten di hati," serunya.

Rintis menerangkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menargetkan eliminasi malaria global dapat tercapai pada 2030 dan Indonesia termasuk salah satu negara yang berkomitmen.

Oleh karena itu ia menyebutkan BRIN bersama mitra penelitian tengah menguji berbagai strategi. Mulai dari pemberian primaquine dosis tinggi dalam waktu singkat untuk membunuh hipnozoit, hingga uji coba obat baru tafenoquine yang memiliki efek serupa tetapi cukup dengan satu kali dosis.

Dari sisi pencegahan, jelas Rintis, vaksin malaria juga menjadi fokus, dimana WHO telah merekomendasikan penggunaan vaksin di sejumlah negara Afrika. Indonesia pun mempersiapkan uji coba vaksin R21 buatan Oxford dan Serum Institute of India pada tahun depan, untuk melihat efektivitasnya terhadap Plasmodium vivaxmaupun Plasmodium falciparum.

"Kami juga bekerja sama dengan peneliti Papua Nugini untuk surveilans molekuler di wilayah perbatasan. Pergerakan penduduk di daerah ini mempengaruhi penyebaran malaria di kedua negara," ujarnya.

Dengan kombinasi riset, inovasi, dan intervensi lapangan yang tepat, Rintis optimistis target eliminasi malaria di Indonesia bisa tercapai pada 2030.