Periskop.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengkaji potensi tempe dan probiotik sebagai intervensi nutrisi untuk mendukung penuaan sehat pada lansia, terutama perempuan pasca-menopause yang rentan mengalami osteoporosis dan gangguan kesehatan tulang.

Penelitian tersebut dilakukan BRIN melalui pendekatan pangan fungsional berbasis bahan lokal, dengan fokus pada pemanfaatan tempe sebagai sumber isoflavon alami yang dikombinasikan dengan probiotik dan kalsium, untuk menjaga kesehatan tulang serta keseimbangan mikrobiota usus.

Peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN Iskandar Azmy Harahap mengatakan, perempuan lansia menjadi kelompok yang membutuhkan perhatian khusus karena memiliki angka harapan hidup lebih panjang dibanding laki-laki.

"Pada perempuan lansia, fase menopause menjadi salah satu periode krusial karena penurunan hormon estrogen berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti perubahan mikrobiota usus dan penurunan kepadatan mineral tulang," katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (23/5).

Menurut Iskandar, osteoporosis menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar seiring meningkatnya populasi lansia di Indonesia. Selama ini, terapi osteoporosis masih didominasi pengobatan konvensional yang memiliki sejumlah keterbatasan, terutama untuk penggunaan jangka panjang.

Karena itu, BRIN mulai meneliti pendekatan berbasis nutrisi melalui pangan fermentasi seperti tempe yang dinilai kaya kandungan isoflavon, senyawa alami dari kedelai yang kerap dikaitkan dengan kesehatan tulang dan hormon.

"Salah satu yang diteliti adalah potensi pangan fermentasi berbasis kedelai, seperti tempe, dikombinasikan dengan probiotik untuk menjaga keseimbangan mikrobiota dan kesehatan tulang," ujarnya.

Hasil penelitian awal menunjukkan kombinasi tempe, probiotik, dan kalsium memiliki potensi mendukung pembentukan sel tulang serta memperbaiki metabolisme tulang pada perempuan pasca-menopause.

Kesehatan Metabolik
Dalam uji pra-klinis, konsumsi tempe bersama probiotik juga dikaitkan dengan perbaikan status kalsium dan indikator metabolisme tulang. Selain itu, probiotik dinilai berpotensi membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus yang memiliki hubungan erat dengan kesehatan metabolik dan daya tahan tubuh lansia.

Sejumlah penelitian internasional sebelumnya juga menunjukkan bahwa pangan fermentasi berbasis kedelai seperti tempe mengandung antioksidan, protein, serat, hingga senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, termasuk dalam menurunkan risiko penyakit degeneratif.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi osteoporosis di Indonesia terus meningkat seiring bertambahnya populasi usia lanjut. Perempuan pasca-menopause menjadi kelompok paling rentan akibat penurunan hormon estrogen yang berperan menjaga kepadatan tulang.

Meski demikian, BRIN menegaskan hasil penelitian tersebut masih berada dalam tahap pengembangan sehingga belum dapat dijadikan rekomendasi medis secara luas tanpa validasi ilmiah lanjutan.

"Penelitian dari sel, hewan, hingga manusia merupakan proses bertahap sehingga hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasi tanpa validasi yang kuat," kata Iskandar.

BRIN berharap penelitian berbasis pangan lokal itu dapat menjadi bagian dari strategi menghadapi populasi menua di Indonesia, sekaligus membuka peluang pengembangan pangan fungsional dan nutrisi berbasis bahan lokal yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Selain meningkatkan kualitas hidup lansia, pendekatan tersebut juga dinilai berpotensi memperkuat pemanfaatan pangan tradisional Indonesia dalam bidang kesehatan dan industri pangan modern.