periskop.id – Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai keputusan mundur jajaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan langkah strategis dan terbaik guna menyelamatkan keberlanjutan serta memulihkan kredibilitas pasar modal Indonesia yang tengah disorot investor global.
“Supaya kan dari segi, dari kemarin ada kejadian yang sampai dua hari berturut-turut gitu kan, karena MSCI nge-freeze untuk kita ada pre-balancing di Februari ini, itu pokoknya sangat telak gitu buat market, kepanikan pasar gitu kan,” kata Reydi kepada awak media, Sabtu (31/1).
Reydi memandang langkah pengunduran diri tersebut sangat krusial untuk meredam keraguan pelaku pasar. Transparansi pasar belakangan ini memang menjadi tanda tanya besar, terutama bagi investor asing.
Kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan proses rebalancing untuk Indonesia di bulan Februari menjadi pukulan telak. Hal ini memicu efek psikologis negatif dan memperbesar kekhawatiran terhadap tata kelola bursa.
Oleh karena itu, penyegaran di tubuh regulator menjadi kebutuhan mendesak. Kehadiran figur-figur baru diharapkan mampu membawa angin segar bagi penyelenggaraan pasar modal.
“Mungkin kita perlu orang-orang baru untuk bisa memimpin, untuk memimpin terselenggara pasar modal dengan lebih kredibel gitu,” jelasnya.
Meski terjadi gejolak, Reydi menganalisis tekanan pasar saat ini tidak sedahsyat krisis-krisis sebelumnya. Situasinya berbeda dibandingkan saat pandemi Covid-19 atau era perang dagang Presiden AS Donald Trump.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai lebih sebagai reaksi spontan pasar terhadap kebijakan MSCI. Sejarah mencatat, pasar Indonesia kerap mampu bangkit kembali setelah mengalami tekanan hebat.
“Tapi kan yang Covid kemarin dan pas kasus Trump yang bikin perang tarif di bulan April, yang waktu lebaran kemarin itu juga di Indonesia, tapi terjadi, abis itu langsung terjadi rebound gitu,” terangnya optimis.
Ia menambahkan, keputusan MSCI sebenarnya memiliki sisi positif terselubung. Langkah tersebut bertujuan menahan potensi arus keluar modal asing (capital outflow) yang lebih besar dari pasar domestik.
Menatap perdagangan pekan depan, Reydi memprediksi IHSG masih akan menghadapi tekanan jual di awal pekan. Pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see menunggu kepastian figur pengganti di sektor jasa keuangan.
“Kalau misalkan ternyata lebih kredibel kan sebenarnya lebih baik gitu. Mungkin memang harus ada calon yang baru yang bisa lebih bagus,” tutup Reydi.
Tinggalkan Komentar
Komentar