Periskop.id - Sejumlah petani kakao di Kabupaten Lebak, Banten, terpaksa menunda penjualan akibat harga di pasaran anjlok dari Rp45.000 menjadi Rp20.000 per kilogram (kg).
"Kita panen kakao bulan Januari 2026 lalu, lebih baik disimpan sambil menunggu harga kembali membaik," kata Didi, seorang petani kakao di Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, dikutip Minggu (22/2).
Anjloknya kakao tersebut, menurut dia, sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir di tingkat pengepul. Padahal sebelumnya harga kakao cukup baik, bahkan sempat menembus Rp135.000 per kg pada 2024.
Oleh karena itu, Didi yang saat ini memiliki biji kakao sebanyak 500 kg mengatakan, lebih memilih menyimpannya sambil menunggu harga kembali membaik. "Kami tidak menjual kakao dulu, karena harganya murah dan dipastikan merugi," tuturnya.
Begitu juga petani kakao Lebak lainnya, Ujang yang mengaku memiliki kakao sebanyak 250 kg, namun terpaksa tidak menjual karena harga di pengepul turun. Penurunan harga kakao yang terjadi beberapa hari terakhir itu, menurut dia, dipengaruhi oleh musim panen di beberapa daerah sentra penghasil coklat.
"Kita lebih baik tidak menjual kakao terlebih dahulu sambil menunggu kepastian harga pasaran," serunya.
Sementara itu, Bambang (47) seorang pengepul hasil bumi di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, mengatakan, kini menampung kakao kering dari berbagai daerah di Lebak, Serang dan Pandeglang, namun dengan jumlah relatif kecil. "Kami sekarang tampak sepi untuk menampung kakao, karena kebanyakan petani menunda menjualnya usai harga coklat anjlok," ucapnya.
Peningkatan Pasokan
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebutkan harga referensi (HR) biji kakao periode Januari 2026 mengalami penurunan yang dipengaruhi oleh peningkatan suplai dari negara produsen.
Dalam keterangan di Jakarta, Kamis, Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana mengatakan, HR biji kakao ditetapkan sebesar US$5.662,38 per MT, turun sebesar US$315,08 atau 5,27% dari bulan sebelumnya.
Hal ini berdampak pada penurunan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao pada Januari 2026 yang menjadi US$5.296 per MT, turun US$308 atau 5,49% dari periode sebelumnya.
"Penurunan HR dan HPE biji kakao dipengaruhi oleh peningkatan suplai biji kakao seiring dengan peningkatan produksi di negara produsen utama di wilayah Afrika Barat. Hal itu disebabkan membaiknya cuaca yang tidak diikuti oleh peningkatan permintaan," jelas Tommy.
Tinggalkan Komentar
Komentar