Periskop.id - Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Manuara Siahaan menyatakan, modifikasi cuaca di Jakarta menjadi pilihan terbaik saat ini untuk mengantisipasi terjadinya potensi banjir di daerah itu.
"Salah satu metode yang paling utama yang bisa mengatasi (curah hujan tinggi) adalah modifikasi cuaca. Sampai dengan saat ini inilah pilihan yang terbaik," kata Manuara dikutip Selasa (20/1).
Ia mengatakan, modifikasi cuaca dalam kondisi season musim seperti ini perlu dilakukan. Apalagi BMKG juga sudah memberikan prakiraan terkait cuaca yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan lainnya.
Menurut dia, BPBD DKI Jakarta selaku instansi yang membidangi permasalahan bencana, harus bisa membaca dan menganalisa apa yang disampaikan BMKG terkait prakiraan cuaca. Dengan begitu, lanjutnya, waktu untuk modifikasi cuaca di Jakarta dapat dilakukan dengan lebih pas dan bisa mengantisipasi terjadinya bencana hidrometeorologi di Ibu Kota Jakarta.
"Pilihan melakukan modifikasi cuaca adalah pilihan yang tepat karena cuaca ini adalah kuasa alam, kuasa Tuhan, manusia ini diberikan kecerdasan, pengetahuan, kemampuan untuk sedikit merubah itu," ujarnya.
Ia menambahkan Pemprov DKI juga harus terbuka mengenai operasi modifikasi cuaca kepada masyarakat supaya mereka tahu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menghadapi bencana alam.
Selain itu, Manuara menyampaikan, dengan adanya kerja sama antara Pemprov DKI dan TNI Angkatan Udara dalam operasi modifikasi cuaca juga menjadi hal yang baik karena dapat menekan biaya.
"Pelibatan Angkatan Udara di situ menurut saya sudah sangat tepat. Memenuhi unsur efisiensi dan efektivitas dan pelibatan kelembagaan secara tanggung jawab bersama," tuturnya.
Alokasikan Rp31 Miliar
Asal tahu saja, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp31 miliar untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan dalam rangka mengantisipasi hujan dengan intensitas tinggi yang bisa mengakibatkan banjir di kota metropolitan ini sepanjang tahun 2026.
“Kita sudah kalkulasikan sepanjang tahun itu Rp31 miliar," kata Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohammad Yohan.
Awalnya itu hanya dialokasikan Rp7 miliar. "Tapi berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada 2026 ada kecenderungan-kecenderungan seperti apa. Jadi ditambah lagi," serunya.
Yohan menjelaskan, penambahan anggaran itu dilakukan karena adanya rencana pelaksanaan OMC pada saat musim kemarau mendatang. Berbeda dengan OMC saat musim hujan, nantinya OMC saat musim kemarau dilakukan agar hujan turun di atas tanah bukan di atas laut.
“Kita juga ada niatan nanti masuk musim kering, justru kita coba gugurkan awannya di daratan. Beda metodenya (dengan OMC saat musim hujan),” kata Yohan.
Kendati demikian, Yohan mengatakan, total anggaran tersebut tak akan dipaksakan untuk terserap seluruhnya. Apabila situasi dirasa cukup kondusif maka OMC tidak akan dilakukan.
Yohan juga memaparkan jumlah anggaran yang disiapkan untuk OMC periode awal dan pertengahan tahun sebesar Rp7 miliar. “Itu dipersiapkan sekitar Rp7 miliar untuk tahap yang awal tahun ini. Awal dan pertengahan tahun ini itu Rp7 miliar. Tapi itu juga belum tentu terserap semua,” jelasnya.
Sebab, kata Yohan, jumlah garam yang disebarkan dalam setiap penerbangan juga berbeda. Terkadang dibutuhkan 800 kilogram hingga 1 ton garam atau Natrium Clorida (NaCl). “Satu hari itu 3 penerbangan. Itu detail-detailnya ada hitung-hitungan dari BMKG. Berapa NaCl yang harus dibawa," tuturnya.
Utara – Selatan
Menurutnya, operasi modifikasi cuaca pada hari keempat menyasar wilayah perairan utara dan selatan Jakarta. Operasi ini merupakan kolaborasi antara BPBD Provinsi DKI Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara (TNI AU), serta PT Rekayasa Atmosphere Indonesia.
“Operasi modifikasi cuaca hari keempat ini difokuskan pada wilayah perairan utara dan wilayah selatan Jakarta sebagai langkah strategis untuk mengurangi potensi hujan dengan intensitas tinggi di wilayah daratan Jakarta," kata Yohan, Senin (19/1).
Menurut dia, pelaksanaan OMC hari keempat sebagai langkah mitigasi dampak cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Kegiatan OMC dilaksanakan melalui tiga sorti penerbangan pesawat CASA 212 A-2105 yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Sorti pertama dilaksanakan pada pagi hari dengan fokus penyemaian awan di wilayah perairan utara Jakarta. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 8.000 hingga 12.000 kaki, pada sorti ini digunakan 800 kilogram bahan semai Natrium Klorida (NaCl).
Strategi penyemaian di wilayah perairan bertujuan untuk meluruhkan awan hujan yang bergerak menuju daratan Jakarta agar presipitasi dapat terkonsentrasi di laut.
Sorti kedua kembali difokuskan pada wilayah Perairan Barat Laut hingga Utara Jakarta. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 9.000-10.000 kaki dengan awan target jenis Cumulus, hasil pengamatan menunjukkan awan memiliki base sekitar 4.000 kaki dan top hingga 11.000 kaki.
"Pada sorti ini digunakan kembali 800 kilogram NaCl untuk mengoptimalkan peluruhan awan hujan di wilayah perairan," ujar Yohan.
Pada siang hari, sorti ketiga dilaksanakan dengan fokus penyemaian di wilayah udara (overhead) Bogor dan Depok. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000–6.000 kaki menggunakan 800 kilogram bahan semai Kalsium Oksida (CaO).
Penyemaian di wilayah selatan ini bertujuan untuk mengendalikan dan memecah awan hujan yang berpotensi bergerak ke wilayah Jakarta, sehingga intensitas hujan di daerah hilir dapat ditekan.
Ia menambahkan, penentuan lokasi dan ketinggian penyemaian disesuaikan dengan arah angin, jenis awan, serta potensi pertumbuhan awan hujan yang terpantau oleh BMKG.
"BPBD Provinsi DKI Jakarta bersama BMKG dan TNI AU akan terus melakukan evaluasi dan koordinasi harian selama periode pelaksanaan OMC untuk memastikan efektivitas upaya mitigasi cuaca ekstrem," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar