periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan keberhasilan penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (TMC) yang mampu menekan intensitas curah hujan hingga 80% di wilayah terdampak bencana Aceh dan Sumatera, sehingga proses pemulihan infrastruktur fisik dapat berjalan optimal tanpa hambatan cuaca.
“Sehingga dalam satu bulan terakhir ini, kami bisa sampaikan bahwa hari tanpa hujan itu mungkin 80 persen dari total hari yang ada di satu bulan pascabencana ini,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam konferensi pers daring, Sabtu (27/12).
Abdul menjelaskan bahwa operasi ini bukan pekerjaan mudah. Pasalnya, wilayah bencana saat ini sedang berada dalam periode puncak musim penghujan yang sangat rawan memicu bencana hidrometeorologi susulan.
Tantangan utama operasi ini adalah memecah atau mengurangi awan hujan di saat intensitas pembentukannya sedang tinggi-tingginya. Langkah ini dinilai sebagai intervensi paling efektif untuk menjaga stabilitas kondisi lapangan.
“Tetapi memang kondisi saat ini adalah kita berada pada puncak musim hujan. Dan yang kita lakukan dengan operasi modifikasi cuaca adalah mengurangi hujan, bahkan mentiadakan hujan pada saat puncak musim hujan,” ujarnya.
Keberhasilan menciptakan hari kering ini berdampak langsung pada percepatan kerja tim di lapangan. Alat berat bisa beroperasi maksimal untuk membersihkan longsoran dan memperbaiki jalan tanpa risiko tanah kembali labil akibat guyuran air.
Selain itu, pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi pengungsi juga bisa dikebut. Proses konstruksi membutuhkan cuaca yang kondusif agar target penyelesaian hunian bisa tercapai tepat waktu.
Abdul tidak menampik bahwa sempat terjadi bencana susulan skala kecil di beberapa titik empat hingga lima hari lalu. Namun, insiden tersebut bisa segera ditangani dan diminimalisir dampaknya berkat pengendalian cuaca yang intensif.
“Ini memang satu upaya yang sebenarnya sangat-sangat menantang, tapi itu yang kita kerjakan saat ini. Sehingga benar-benar kita terus optimalkan supaya operasi pemulihan akses jalan, pemulihan akses komunikasi, dan pembangunan huntara ini benar-benar bisa optimal,” tegasnya.
Pemerintah berkomitmen akan terus melanjutkan operasi teknologi ini hingga masa tanggap darurat dan transisi selesai. Pengendalian cuaca menjadi salah satu kunci utama dalam manajemen penanganan bencana di fase kritis ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar