Periskop.id - Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) DKI Jakarta sepanjang 2025 mencapai Rp270,9 triliun, atau setara 14,0% dari total realisasi investasi nasional. Angka tersebut meningkat 12,0% secara tahunan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar Rp241,9 triliun.

"Dari total realisasi investasi secara kumulatif, realisasi PMDN mencapai Rp175,3 triliun," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi DKI Jakarta Heru Hermawanto di Jakarta, dikutip Selasa (20/1). 

Sementara realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di DKI Jakarta juga menunjukkan kinerja positif dengan nilai mencapai Rp95,6 triliun. Capaian ini, sambung Heru, menjadi indikator kuat atas kepercayaan investor global terhadap stabilitas ekonomi serta konsistensi kebijakan investasi di Jakarta.

Menurut dia, peningkatan realisasi investasi tidak hanya didorong oleh kemudahan layanan perizinan, tetapi juga oleh kebijakan insentif investasi serta penguatan pengendalian dan pengawasan kegiatan usaha. Heru juga memaparkan capaian realisasi investasi DKI Jakarta pada kuartal IV (Oktober-Desember) 2025.

Pada periode tersebut, realisasi PMDN Jakarta kembali menjadi yang tertinggi secara nasional dengan nilai Rp44,1 triliun. Sementara itu, realisasi PMA tercatat mencapai US$1,4 miliar atau sekitar Rp22,7 triliun.

Total realisasi investasi PMDN dan PMA Jakarta pada kuartal IV 2025 mencapai Rp66,8 triliun atau menyumbang 13,4% dari total realisasi investasi nasional. "Capaian ini meningkat 33,3% secara year on year dibandingkan kuartal IV 2024 yang tercatat sebesar Rp50,1 triliun,” ucapnya.

Dia berharap, capaian realisasi ini memberikan dampak nyata bagi perekonomian DKI Jakarta. Antara lain melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan aktivitas usaha, serta penguatan struktur ekonomi daerah yang berkelanjutan.

Ekonomi Kreatif
Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebutkan, Provinsi DKI Jakarta menjadi salah satu dari tiga daerah dengan kontribusi terbesar terhadap investasi dan ekspor sektor ekonomi kreatif nasional.

“Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Oktober 2025, realisasi investasi sektor ekonomi kreatif telah mencapai 97 persen dari target nasional sebesar Rp136 triliun, dan tiga besarnya berasal dari DKI Jakarta,” kata Riefky saat peresmian Tahilalats Station di Dukuh Atas, Jakarta, Rabu (14/1). 

Dia juga menyampaikan, capaian ekspor ekonomi kreatif nasional telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Dari target sebesar US$26,4 miliar, realisasi ekspor ekonomi kreatif per Oktober 2025 telah mencapai 101%, dengan DKI Jakarta yang menjadi salah satu kontributor utama.

Selain investasi dan ekspor, sambung dia, sektor ekonomi kreatif juga menunjukkan kinerja positif dari sisi penyerapan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja ekonomi kreatif telah mencapai 27,4 juta orang, atau melampaui target 2025 yang sebesar 25,5 juta orang.

“Capaian ini menunjukkan ekonomi kreatif berpotensi menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Riefky.

Oleh sebab itu, dia mengapresiasi keseriusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai kolaborasi kegiatan. Mulai dari literasi, fesyen, hingga penguatan kekayaan intelektual (IP) lokal agar mampu bersaing di pasar global.

Terlebih, dia menyebutkan Jakarta akan menjadi tuan rumah World Conference on Creative Economy pada Oktober 2026, yang merupakan konferensi ekonomi kreatif terbesar di dunia, dan rencananya dihadiri perwakilan dari sekitar 50 negara.

Menurut dia, penunjukan Jakarta sebagai tuan rumah kegiatan itu sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk menjadikan Jakarta sebagai kota global (global city), sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Sebelumnya, Indonesia pernah menjadi tuan rumah konferensi tersebut di Bali. Pada 2026, penyelenggaraan di Jakarta diharapkan dapat memperluas kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pelaku industri kreatif nasional.

“Kami ingin melahirkan local heroes dari 17 subsektor ekonomi kreatif, kemudian mendorongnya menjadi national champion dan go global,” ungkap Riefky.

Salah satunya, kata dia, dibuktikan melalui dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terhadap toko hasil kolaborasi MRT Jakarta, dengan industri kreatif Tahilalats (Tahilalats Station) di Stasiun MRT Dukuh Atas BNI, Tanah Abang, Jakarta Pusat, untuk pengembangan ruang interaksi.