Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menyebutkan, cuaca ekstrem tak hanya terjadi di Indonesia khususnya Jakarta, melainkan juga dialami oleh negara dan daerah lainnya.

“Sekarang bukan hanya terjadi di Indonesia, hampir semua daerah, hampir semua wilayah di seluruh dunia terjadi cuaca ekstrem yang luar biasa," kata Pramono di Jakarta Pusat, Selasa (20/1). 

Bahkan di Rusia ada salju yang tingginya sampai 3-4 level gedung. "Dan selama ini di Eropa Barat nggak pernah banjir, akhirnya banjir,” serunya. 

Karena itu, Pramono menilai, cuaca ekstrem yang saat ini sedang terjadi di ibu kota merupakan sebuah pemberian Tuhan. Pramono pun fokus untuk mengatasi persoalan tersebut. 

Salah satunya, Pemerintah Provinsi Jakarta selalu bekerjasama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memantau situasi cuaca dari hari ke hari.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Jakarta juga melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya mengatasi banjir. Bahkan, Pemerintah Provinsi Jakarta sudah menyiapkan anggaran OMC untuk satu bulan ke depan.

“Saya tidak mau meng-complain urusan cuaca ekstrem ini. Ini adalah given. Yang namanya pemerintah itu bertanggung jawab untuk mengatasi itu,” ujarnya.

Menurut Pramono, OMC sangat penting untuk dilakukan. "Sebab apabila tidak, maka dampak dari cuaca ekstrem di Jakarta akan lebih dari apa yang sudah terjadi pada hari-hari kemarin," katanya.

Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta juga menyiapkan antisipasi banjir jangka menengah. Misalnya dengan membangun waduk hingga embung di wilayah-wilayah Jakarta.

OMC Pilihan Terbaik
Sebelumnya, Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Manuara Siahaan menyatakan, modifikasi cuaca di Jakarta menjadi pilihan terbaik saat ini untuk mengantisipasi terjadinya potensi banjir di daerah itu.

"Salah satu metode yang paling utama yang bisa mengatasi (curah hujan tinggi) adalah modifikasi cuaca. Sampai dengan saat ini inilah pilihan yang terbaik," kata Manuara dikutip Selasa (20/1).

Ia mengatakan, modifikasi cuaca dalam kondisi season musim seperti ini perlu dilakukan. Apalagi BMKG juga sudah memberikan prakiraan terkait cuaca yang dapat menyebabkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan lainnya.

Menurut dia, BPBD DKI Jakarta selaku instansi yang membidangi permasalahan bencana, harus bisa membaca dan menganalisa apa yang disampaikan BMKG terkait prakiraan cuaca. Dengan begitu, lanjutnya, waktu untuk modifikasi cuaca di Jakarta dapat dilakukan dengan lebih pas dan bisa mengantisipasi terjadinya bencana hidrometeorologi di Ibu Kota Jakarta.

"Pilihan melakukan modifikasi cuaca adalah pilihan yang tepat karena cuaca ini adalah kuasa alam, kuasa Tuhan, manusia ini diberikan kecerdasan, pengetahuan, kemampuan untuk sedikit merubah itu," ujarnya.

Ia menambahkan Pemprov DKI juga harus terbuka mengenai operasi modifikasi cuaca kepada masyarakat supaya mereka tahu upaya yang telah dilakukan pemerintah dalam menghadapi bencana alam.

Selain itu, Manuara menyampaikan, dengan adanya kerja sama antara Pemprov DKI dan TNI Angkatan Udara dalam operasi modifikasi cuaca juga menjadi hal yang baik karena dapat menekan biaya.

"Pelibatan Angkatan Udara di situ menurut saya sudah sangat tepat. Memenuhi unsur efisiensi dan efektivitas dan pelibatan kelembagaan secara tanggung jawab bersama," tuturnya. 

Alokasikan Rp31 Miliar

Asal tahu saja, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengalokasikan anggaran sebesar Rp31 miliar untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan dalam rangka mengantisipasi hujan dengan intensitas tinggi yang bisa mengakibatkan banjir di kota metropolitan ini sepanjang tahun 2026.

“Kita sudah kalkulasikan sepanjang tahun itu Rp31 miliar," kata Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohammad Yohan.

Awalnya itu hanya dialokasikan Rp7 miliar. "Tapi berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pada 2026 ada kecenderungan-kecenderungan seperti apa. Jadi ditambah lagi," serunya. 

Yohan menjelaskan, penambahan anggaran itu dilakukan karena adanya rencana pelaksanaan OMC pada saat musim kemarau mendatang. Berbeda dengan OMC saat musim hujan, nantinya OMC saat musim kemarau dilakukan agar hujan turun di atas tanah bukan di atas laut.

“Kita juga ada niatan nanti masuk musim kering, justru kita coba gugurkan awannya di daratan. Beda metodenya (dengan OMC saat musim hujan),” kata Yohan.

Kendati demikian, Yohan mengatakan, total anggaran tersebut tak akan dipaksakan untuk terserap seluruhnya. Apabila situasi dirasa cukup kondusif maka OMC tidak akan dilakukan.