periskop.id - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menegaskan bahwa pemerintah provinsi akan mengambil langkah antisipatif menghadapi potensi banjir dengan kebijakan Work From Home (WFH) bagi pegawai serta Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi pelajar.

“Kalau memang akan terulang kembali dan mudah-mudahan tidak, karena kemarin ketika curah hujan di hari Sabtu-Minggu, kebetulan libur panjang sehingga tidak memerlukan 'Work From Home',” ujarnya dikutip dari Antara, Rabu (21/1).

Pramono menekankan, bila banjir terjadi pada hari kerja, keputusan WFH akan segera diberlakukan. Hal serupa juga berlaku untuk dunia pendidikan. 

“Kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi dunia pendidikan juga akan diberikan apabila situasi banjir di Jakarta dinilai cukup parah,” tambahnya.

Selain kebijakan sosial, Pemprov DKI Jakarta terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai strategi teknis. OMC dilakukan dengan menabur garam di awan untuk mengendalikan intensitas hujan. Meski begitu, efektivitas OMC bergantung pada akurasi prakiraan cuaca.

Pramono mengungkapkan, banjir akhir pekan lalu terjadi karena prakiraan hujan pada Sabtu (17/1) tidak menunjukkan intensitas tinggi. Namun kenyataannya, curah hujan mencapai 260–280 mm, jauh di atas ambang normal. 

“Karena itu, OMC tidak dilakukan pada hari tersebut. Namun ternyata curah hujan lebih tinggi dari prakiraan,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, OMC segera digelar pada Minggu (18/1) dengan tiga kali penerbangan. Menurut Pramono, langkah itu berhasil meringankan dampak banjir. 

“Apabila tak dilakukan OMC pada Minggu, saya khawatir lebih banyak wilayah Jakarta yang tergenang,” katanya.

Selain OMC, Jakarta mengandalkan fasilitas pompa air yang tersebar di berbagai titik. 

“Hampir sepanjang Pantai Utara Jawa hari ini juga masih kebanjiran semua. Tetapi kenapa di Jakarta bisa cepat surut? Karena memang fasilitas pompanya cukup untuk melakukan itu,” tegasnya.

Data BMKG menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem di atas 250 mm per hari berpotensi menimbulkan genangan luas di wilayah perkotaan. Jakarta sendiri memiliki lebih dari 400 unit pompa stasioner dan mobile yang menjadi tulang punggung penanganan banjir.