Periskop.id - Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyiagakan semua fasilitas kesehatan (faskes) dan menyiapkan tim kegawatdaruratan, untuk mengantisipasi curah hujan tinggi yang meningkatkan risiko bencana banjir.
"Saya betul-betul menekankan pada semua pimpinan faskes apakah itu Puskesmas atau rumah sakit, untuk selalu menyiagakan tim kegawatdaruratannya yang bisa setiap saat siap untuk bertugas," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati di Jakarta, Rabu (4/2).
Merujuk peringatan dini BMKG, dia mengingatkan curah hujan tinggi diprakirakan akan terjadi hingga beberapa hari ke depan. Akibatnya, risiko banjir dan genangan akan meningkat dan ini akan mengganggu mobilitas serta akses ke semua hal termasuk ke fakses.
Selain itu, lonjakan jumlah pasien kemungkinan akan tinggi, ditambah munculnya risiko infeksi akibat kondisi air tercemar dan berbagai penyakit yang kemudian timbul akibat banjir.
Karena itu, tenaga kesehatan harus siap dengan manajemen bencana dan diharapkan terus memperbarui kompetensi. Dengan begitu, diharapkan tenaga Kesehatan tidak hanya menolong diri sendiri, namun juga dapat memberikan pertolongan, serta memberikan kontribusi kepada masyarakat.
"Tenaga kesehatan bersama dengan tim BPBD pasti juga akan menjadi garda terdepan dalam setiap kondisi bencana dan ketika tidak memiliki kompetensi, tidak siap, maka bisa menjadi korban," ujar Ani.
Di sisi lain, saat kondisi bencana, faskes dapat saja menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM), akibat jam kerja tenaga kesehatan yang biasanya akan semakin Panjang. Begitu juga dengan potensi tenaga kesehatan yang terhambat aksesnya, untuk sampai ke lokasi faskes.
Karena itu, kata Ani dalam seminar daring kesehatan dan kebencanaan, manajemen SDM juga menjadi hal penting untuk dikelola dengan baik. Hal senada juga disampaikan Kepala Pusat Pelatihan Kesehatan Daerah (Puslatkesda) DKI Jakarta Fify Mulyani.
Dia mengatakan, dalam situasi bencana termasuk banjir, fasilitas kesehatan menghadapi tantangan besar, untuk tetap memberikan pelayanan yang optimal di tengah keterbatasan sumber daya, lonjakan jumlah pasien serta kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
Karena itu, tenaga kesehatan perlu memiliki kesiapan dan kemampuan manajemen kesehatan darurat yang memadai. Termasuk penanganan luka akibat air tercemar, serta upaya pencegahan penyakit menular yang berpotensi meningkat saat dan setelah banjir.
Dia mengingatkan, cuaca dan curah hujan ekstrem yang terjadi dalam beberapa saat ini yang kemudian meningkatkan risiko banjir di DKI Jakarta menimbulkan berbagai permasalahan kesehatan. Risiko kesehatan tersebut antara lain meningkatnya jumlah korban, baik akibat banjir, adanya luka, paparan air tercemar, munculnya penyakit menular dan terganggunya pelayanan kesehatan.
Banjir Masih Melanda
Semantara itu, banjir masih melanda sejumlah wilayah di Jakarta saat ini. Sebanyak 39 Rukun Tetangga (RT) di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan, terendam banjir, setelah diguyur hujan deras dan meluapnya Kali Krukut.
"Ketinggian air yang masuk ke permukiman warga, yaitu 30 cm," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohamad Yohan di Jakarta, Rabu (4/2).
Menurut dia, untuk penyebab terjadinya banjir lokasi tersebut karena cuaca, yaitu hujan deras yang melanda wilayah DKI dan sekitarnya serta meluapnya Kali Krukut. Selain 39 RT terendam banjir, BPBD DKI juga mencatat terdapat satu ruas jalan yang terendam dengan ketinggian 35 sentimeter (cm). "Untuk jalan DI Panjaitan, Kelurahan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, juga terendam banjir," ujarnya.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta Timur selama sekitar 15 menit menjadi alasan terjadinya banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter (cm) di Jalan DI Panjaitan, Jatinegara.
"Banjir untuk siang hari ini, usai hujan di Jalan DI Panjaitan kisaran tinggi air mencapai 40-60 sentimeter," kata Wakasat Lantas Jakarta Timur Kompol Sunaryo di Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu.
Sunaryo menyebut, air mulai naik sejak pukul 11.00 WIB dan hingga siang ini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua dan kendaraan kecil.
Kemacetan Panjang
Akibat banjir tersebut, petugas terpaksa melakukan pengaturan lalu lintas secara manual. Saat ini, hanya satu lajur yang masih dapat dilalui kendaraan, sehingga terjadi antrean panjang di sejumlah titik.
Untuk mengurai kemacetan, petugas memberlakukan pengalihan arus bagi pengendara yang melintas dari arah Cawang dan UKI. Pengendara diarahkan untuk berbelok ke kiri menuju Jalan Otista Raya sebagai jalur alternatif.
"Kami menganjurkan pengguna jalan dari arah Cawang dan UKI untuk belok ke kiri menuju Jalan Otista Raya," jelas Sunaryo.
Terkait penyebab banjir, kata Sunaryo kawasan tersebut memiliki kontur tanah yang relatif rendah. Ketika hujan dengan intensitas tinggi turun, air dengan cepat menggenangi badan jalan.
Selain itu, keberadaan proyek di sekitar lokasi juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi drainase. "Di sini memang datarannya cukup rendah. Kalau hujan deras, langsung terjadi genangan. Di lokasi juga ada proyek, salah satunya bertujuan untuk penyedotan air saat banjir. Mudah-mudahan setelah proyek selesai, banjir tidak terjadi lagi," ucap Sunaryo.
Hingga siang hari, proses penyedotan air belum dilakukan karena petugas dan peralatan belum tiba di lokasi, sehingga membuat air masih bertahan dan belum bisa diatasi secara maksimal. "Untuk penyedotan belum, belum datang," ucap Sunaryo.
Meski demikian, aparat tetap bersiaga di lokasi untuk mengatur arus lalu lintas dan membantu pengendara yang melintas. Petugas terus melakukan pemantauan guna mengantisipasi kemungkinan banjir semakin tinggi jika hujan kembali turun.
Yohan melanjutkan, BPBD DKI Jakarta telah mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah. Pihaknya juga mengkoordinasikan dengan unsur Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) guna melakukan penyedotan genangan.
Selain itu, pihaknya juga memastikan tali-tali air berfungsi dengan agar genangan dapat surut dalam waktu cepat. BPBD DKI mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan.
“Dalam keadaan darurat, segera hubungi nomor telepon 112. Layanan ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar