Periskop.id - Sebanyak 39 Rukun Tetangga (RT) di Kelurahan Petogogan, Jakarta Selatan, terendam banjir, setelah diguyur hujan deras dan meluapnya Kali Krukut.

"Ketinggian air yang masuk ke permukiman warga, yaitu 30 cm," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Mohamad Yohan di Jakarta, Rabu (4/2). 

Menurut dia, untuk penyebab terjadinya banjir lokasi tersebut karena cuaca, yaitu hujan deras yang melanda wilayah DKI dan sekitarnya serta meluapnya Kali Krukut. Selain 39 RT terendam banjir, BPBD DKI juga mencatat terdapat satu ruas jalan yang terendam dengan ketinggian 35 sentimeter (cm). "Untuk jalan DI Panjaitan, Kelurahan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, juga terendam banjir," ujarnya.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Jakarta Timur selama sekitar 15 menit menjadi alasan terjadinya banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 50 sentimeter (cm) di Jalan DI Panjaitan, Jatinegara. 

"Banjir untuk siang hari ini, usai hujan di Jalan DI Panjaitan kisaran tinggi air mencapai 40-60 sentimeter," kata Wakasat Lantas Jakarta Timur Kompol Sunaryo di Jalan DI Panjaitan, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu.

Sunaryo menyebut, air mulai naik sejak pukul 11.00 WIB dan hingga siang ini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Kondisi tersebut cukup mengganggu aktivitas pengguna jalan, khususnya pengendara roda dua dan kendaraan kecil.

Akibat banjir tersebut, petugas terpaksa melakukan pengaturan lalu lintas secara manual. Saat ini, hanya satu lajur yang masih dapat dilalui kendaraan, sehingga terjadi antrean panjang di sejumlah titik.

Untuk mengurai kemacetan, petugas memberlakukan pengalihan arus bagi pengendara yang melintas dari arah Cawang dan UKI. Pengendara diarahkan untuk berbelok ke kiri menuju Jalan Otista Raya sebagai jalur alternatif.

"Kami menganjurkan pengguna jalan dari arah Cawang dan UKI untuk belok ke kiri menuju Jalan Otista Raya," jelas Sunaryo.

Antisipasi Banjir Makin Tinggi
Terkait penyebab banjir, kata Sunaryo kawasan tersebut memiliki kontur tanah yang relatif rendah. Ketika hujan dengan intensitas tinggi turun, air dengan cepat menggenangi badan jalan.

Selain itu, keberadaan proyek di sekitar lokasi juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi drainase. "Di sini memang datarannya cukup rendah. Kalau hujan deras, langsung terjadi genangan. Di lokasi juga ada proyek, salah satunya bertujuan untuk penyedotan air saat banjir. Mudah-mudahan setelah proyek selesai, banjir tidak terjadi lagi," ucap Sunaryo.

Hingga siang hari, proses penyedotan air belum dilakukan karena petugas dan peralatan belum tiba di lokasi, sehingga membuat air masih bertahan dan belum bisa diatasi secara maksimal. "Untuk penyedotan belum, belum datang," ucap Sunaryo.

Meski demikian, aparat tetap bersiaga di lokasi untuk mengatur arus lalu lintas dan membantu pengendara yang melintas. Petugas terus melakukan pemantauan guna mengantisipasi kemungkinan banjir semakin tinggi jika hujan kembali turun.

Yohan melanjutkan, BPBD DKI Jakarta telah mengerahkan personel untuk memonitor kondisi genangan di setiap wilayah. Pihaknya juga mengkoordinasikan dengan unsur Dinas Sumber Daya Air (SDA), Dinas Bina Marga serta Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) guna melakukan penyedotan genangan.

Selain itu, pihaknya juga memastikan tali-tali air berfungsi dengan agar genangan dapat surut dalam waktu cepat. BPBD DKI mengimbau kepada masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada terhadap potensi genangan.

“Dalam keadaan darurat, segera hubungi nomor telepon 112. Layanan ini gratis dan beroperasi selama 24 jam non-stop," pungkasnya.