Periskop.id - Proyek pembangunan jalan tembus sejajar rel di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tidak menghadapi penolakan berarti dari warga. Proyek ini lama mangkrakl karena terkendala keterbatasan anggaran.
“Untuk penolakan dari warga, hampir tidak ada. Memang sempat terkendala karena pandemi dan anggaran di Dinas Bina Marga terbatas, sehingga pelaksanaannya bertahap,” kata Lurah Pejaten Timur Supriyanto saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (24/4).
Dia mengatakan, sebagian besar warga mendukung proyek tersebut, meskipun prosesnya sempat terhambat sejak masa pandemi covid-19. Warga yang terdampak, kata dia, berharap agar proses pembebasan lahan segera diselesaikan sehingga mereka mendapatkan kepastian tempat tinggal dan usaha.
“Warga berharap pembayaran bisa segera dilakukan supaya ada kepastian dan bisa mendapatkan rumah yang layak serta lokasi usaha, meskipun mungkin agak jauh dari lokasi semula,” ujar Supriyanto.
Seperti diketahui, berdasarkan Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 493 Tahun 2024, lokasi pembangunan akses jalan sejajar rel Pasar Minggu mencakup area seluas sekitar 14.220 meter persegi di Kelurahan Pejaten Timur.
Proses Pembebasan Tanah
Dinas Bina Marga DKI Jakarta berkomitmen merampungkan proyek jalan tembus Pasar Minggu yang telah direncanakan itu untuk memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Pembangunan jalan tersebut rencananya dilanjutkan kembali setelah proses pembebasan lahan selesai.
Saat ini, tahap pengadaan tanah masih berlangsung di Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Selatan, selaku Ketua Tim Pelaksana Pengadaan Tanah.
Hingga 2025, dari total 118 bidang tanah, sebanyak 59 bidang tanah telah dilakukan pembebasan, sedangkan 59 bidang tanah lainnya masih dalam proses pembebasan. Dari jumlah tersebut, terdapat delapan bidang tanah yang merupakan aset pemerintah.
Dinas Bina Marga DKI pun mengharapkan dukungan dari masyarakat agar proses pembangunan jalan tersebut dapat berjalan dengan lancar demi kepentingan bersama.
Sekadar mengingatkan, proyek jalan tembus sepanjang dua kilometer itu mulai dikerjakan sejak era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok (2014-2017). Proyek yang telah direncanakan sejak 2014 itu bertujuan mengurangi kemacetan di kawasan Pasar Minggu, namun hingga kini belum sepenuhnya terealisasi.
Tinggalkan Komentar
Komentar