periskop.id - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan instruksi tegas terkait keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang diduga menguasai palang pintu perlintasan kereta api di wilayah Bulak Kapal, Bekasi Timur. Dedi meminta aparat kepolisian segera melakukan penertiban karena fungsi tersebut bukan merupakan wewenang pihak luar.

Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap keamanan perlintasan sebidang pasca-kecelakaan maut di Stasiun Bekasi Timur. Dedi menegaskan tidak boleh ada kelompok yang mengambil alih fasilitas publik demi kepentingan tertentu.

“Tindak saja ormasnya! Kita tindak. Karena bagi saya tidak boleh di Jawa Barat ada orang menguasai sesuatu yang bukan haknya,” kata Dedi Mulyadi di Bekasi, Rabu (29/4).

Sebagai solusi jangka panjang untuk menghilangkan perlintasan sebidang yang rawan kecelakaan, Dedi mengungkapkan pemerintah telah mengalokasikan anggaran fantastis senilai Rp4 triliun. Dana tersebut bersumber dari bantuan Pemerintah Pusat guna membangun infrastruktur keselamatan transportasi di berbagai wilayah, termasuk Bekasi.

“Pak Presiden sudah akan menurunkan Rp4 triliun kemarin untuk seluruh wilayah. Satu pintu lintasan, yang kedua flyover untuk Bekasi. Alokasinya sudah ada di Pemprov,” jelasnya.

Dedi menjelaskan, pembangunan flyover di Bekasi kini tinggal menunggu waktu pelaksanaan teknis. Saat ini, pihaknya sedang melakukan penyempurnaan pada Detailed Engineering Design (DED) untuk memastikan proyek berjalan optimal.

Jika proses penyempurnaan desain teknis rampung, pemerintah akan segera membuka proses lelang agar pembangunan fisik dapat segera dimulai.

“Sekarang itu lagi perbaikan DED, jadi DED-nya disempurnakan. DED sudah ada, jadi kalau alokasi sekarang ada, tinggal pelaksanaan teknis, tinggal lelang,” ujar Dedi.

Dedi menegaskan, ormas tersebut seharusnya ditindak tegas oleh kepolisian setempat.

“Tinggal diberesin sama Polsek,” ungkapnya.

Diketahui, Senin malam (27/4) menjadi momen kelam bagi dunia perkeretaapian Indonesia. Sekitar pukul 20.53 WIB, tabrakan keras terjadi di Stasiun Bekasi Timur antara Commuter Line jurusan Jakarta–Cikarang dengan Kereta Api Jarak Jauh Argo Bromo Anggrek. Kecelakaan tersebut menimpa gerbong khusus perempuan.

Munir, salah satu penumpang yang selamat, menceritakan detik-detik kejadian. Ia berada di gerbong keempat dari belakang saat Commuter Line berhenti di jalur 1. Beberapa menit kemudian, Argo Bromo Anggrek melaju dari arah belakang dan menghantam keras gerbong paling belakang Commuter Line.