periskop.id - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunjungi rumah duka Nur Ainia Eka Rahmadhynna (32), karyawati KompasTV yang menjadi korban meninggal dunia dalam kecelakaan kereta api di Bekasi Timur. Dalam kunjungan tersebut, Dedi menyampaikan duka mendalam sekaligus mendesak pemerintah melakukan pembenahan total terhadap infrastruktur transportasi.

Dedi berharap tragedi maut yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan Commuter Line (KRL) ini menjadi alarm keras bagi pengambil kebijakan lalu lintas di Indonesia.

"Saya menyampaikan duka yang mendalam, semoga peristiwa ini adalah peristiwa terakhir. Artinya, seluruh kelalaian kita dalam penataan infrastruktur lalu lintas darat, laut, dan udara harus segera dibenahi," kata Dedi di Tambun Selatan, Rabu (29/4).

Terkait pendataan korban, Dedi menjelaskan bahwa meskipun kecelakaan terjadi di wilayah Bekasi, banyak jenazah telah dipulangkan ke daerah asal. Hal ini membuat jumlah korban yang dimakamkan di Bekasi relatif sedikit dibandingkan total korban jiwa.

"Yang pertama, warganya memang statusnya warga Jabar, warga Bekasi. Tetapi rata-rata dibawa ke kampung halamannya. Ada yang ke Jawa Tengah, mungkin Jawa Timur. Yang baru teridentifikasi dan dimakamkan di Bekasi baru dua; kemarin guru, sekarang di sini teman-teman media," jelasnya.

Meskipun tidak mengenal mendiang Nur Ainia atau yang akrab disapa Ain secara pribadi, Dedi mengaku sangat kehilangan. Ia menyebut aura kebaikan dari sosok almarhumah yang dikenal penyayang mampu menyentuh sisi kemanusiaan siapa pun yang mendengar kisahnya.

"Penyayang, itu kepergiannya selalu mampu menyentuh hati kita. Saya saja yang barangkali tidak kenal, tidak pernah lihat wajahnya, tidak pernah bertemu, tetap merasa sedih," ungkap Dedi dengan nada haru.

Setelah menyambangi rumah duka, Dedi Mulyadi turut menjadi jamaah dalam rangkaian salat jenazah mendiang Ainia. Ia tampak berada di saf paling depan untuk memberikan penghormatan terakhir.