Periskop.id - Kawasan Kota Tua Jakarta kembali menjadi magnet wisata saat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Melalui Jakarta Light Festival atau Festival Cahaya Jakarta, Taman Fatahillah disulap menjadi ruang hiburan malam terbuka yang memadukan seni pencahayaan, video mapping, musik, dan budaya Betawi.
Festival yang berlangsung pada 21-22 Juni 2026 itu terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Kegiatan digelar mulai sore hingga malam hari, sehingga warga bisa menikmati suasana Kota Tua dengan tampilan berbeda dari biasanya.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak hari pertama. Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua, Denny Aputra, mengatakan jumlah pengunjung yang datang mencapai puluhan ribu orang.
"Hari pertama kegiatan disambut antusias oleh masyarakat. Pengunjung Kota Tua tembus 25 ribu orang," kata Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Denny Aputra saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (22/6).
Kota Tua Jadi Panggung Cahaya
Jakarta Light Festival menghadirkan seni pencahayaan dan video mapping yang menyoroti sejumlah bangunan di sekitar Taman Fatahillah. Teknologi visual itu membuat fasad gedung-gedung tua tampak hidup, tanpa menghilangkan karakter historis kawasan.
Video mapping menjadi salah satu daya tarik utama karena memadukan gambar bergerak, warna, dan narasi visual pada permukaan bangunan. Bagi pengunjung, pertunjukan ini memberi pengalaman baru dalam menikmati Kota Tua, bukan hanya sebagai kawasan sejarah, tetapi juga ruang kreatif yang bisa tampil modern.
Selain pertunjukan cahaya, pengunjung juga bisa menemukan sejumlah objek foto. Salah satunya figur ondel-ondel yang dihias dengan pencahayaan sehingga tampak lebih atraktif pada malam hari. Elemen ini membuat festival terasa lebih dekat dengan identitas Jakarta, terutama budaya Betawi.
Kehadiran instalasi cahaya, musik, dan objek foto membuat Kota Tua menjadi ruang publik yang ramah bagi berbagai kelompok usia. Keluarga, anak muda, komunitas fotografi, hingga wisatawan dapat menikmati festival tanpa harus membeli tiket.
Musik dan Hiburan Ramaikan Taman Fatahillah
Selain seni pencahayaan, festival ini juga menghadirkan panggung hiburan. Pada hari pertama, sejumlah penampil mengisi acara, antara lain Drive, Fajar Sadboy x Blacklink, Cut Mila, dan Indri AFI.
"Hari pertama, panggung hiburan diisi sejumlah artis seperti Drive, fajar sadboy x blacklink, Cut Mila dan Indri AFI," ujar Denny.
Pada hari kedua, festival kembali dimeriahkan oleh artis dalam negeri. Panitia juga menyiapkan penampilan penyanyi dan DJ asal Perancis untuk menghibur pengunjung.
Kombinasi antara musik, cahaya, dan kawasan bersejarah menjadi daya tarik tersendiri. Kota Tua tidak hanya menjadi tempat berjalan-jalan atau berfoto, tetapi juga menjadi panggung kebudayaan urban yang menyatukan hiburan modern dengan warisan sejarah Jakarta.
Strategi Tarik Anak Muda ke Ruang Budaya
Festival seperti Jakarta Light Festival juga dapat dibaca sebagai strategi untuk menarik generasi muda agar semakin dekat dengan kawasan bersejarah. Kota Tua selama ini identik dengan museum, bangunan kolonial, dan jejak masa lalu Jakarta. Namun, agar tetap relevan, kawasan ini perlu dikemas dengan cara yang lebih segar.
Denny sebelumnya menyebut pengelola Kota Tua berupaya memperbanyak spot foto sebagai salah satu cara mengenalkan budaya kepada anak muda. Menurut dia, pendekatan visual dan pengalaman langsung penting untuk membuat generasi muda tertarik datang.
"Anak muda itu suka yang pertama gratis, spot fotonya bagus, mudah sampai aksesnya, dan konten viral," tutur Denny.
Denny juga menilai anak muda perlu diajak mengenal sejarah dan budaya Jakarta lewat pendekatan yang dekat dengan kebiasaan mereka. Media sosial, konten visual, ruang publik, dan aktivitas komunitas menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan kembali kawasan bersejarah.
"Anak-anak zaman sekarang saya lihat adalah orang yang mencampurkan gaya baik dari pengaruh media sosial, budaya luar negeri, dan hanya sering mengenal saja. Nah, inilah peran kita mengajak mereka," ucapnya.
Dengan pendekatan itu, Jakarta Light Festival tidak hanya menjadi hiburan malam. Festival ini juga menjadi cara untuk membuat sejarah dan budaya terasa lebih dekat, ringan, dan menarik bagi generasi muda.
Kota Tua Punya Modal Kunjungan Besar
Kawasan Kota Tua memang menjadi salah satu destinasi favorit di Jakarta. Pada akhir pekan, jumlah pengunjung kawasan ini dapat mencapai 10 ribu hingga 20 ribu orang per hari. Saat musim libur, jumlahnya bisa meningkat lebih tinggi.
Antusiasme pengunjung juga terlihat pada momen libur Lebaran 2026. Pengelola Kota Tua mencatat jumlah kunjungan mencapai puluhan ribu orang. Pada H+2 Lebaran, jumlah pengunjung mencapai 19 ribu orang, lalu meningkat hingga sekitar 23 ribu pengunjung pada H+4.
"Jumlahnya terus meningkat hingga H+4 Lebaran, yakni sekitar 23 ribu pengunjung," kata Denny.
Kenaikan kunjungan itu menunjukkan bahwa Kota Tua tetap menjadi ruang wisata yang kuat, terutama ketika dipadukan dengan hiburan, museum, kuliner, dan seni cahaya.
Menurut Denny, lighting art juga menjadi salah satu pertunjukan yang banyak diminati wisatawan saat libur Lebaran.
"Jadi pada H+1 dan H+2 ada penampilan khusus Balle Keroncong. Warga ikut bernyanyi dan meramaikan. Pada H+3 sampai H+4 ada penampilan band dari Komunitas Kota Tua Jakarta. Selain itu museum buka, ada lighting art, rumah hantu, tempat kuliner," terangnya.
Data dan tren tersebut memperlihatkan, kegiatan berbasis pengalaman dapat memperpanjang waktu kunjungan wisatawan di Kota Tua. Pengunjung tidak hanya datang pada siang hari untuk melihat museum atau berfoto, tetapi juga memiliki alasan untuk bertahan hingga malam.
Sejalan dengan Target Jakarta Jadi Kota Global Berbudaya
Jakarta Light Festival digelar dalam momentum HUT ke-499 Jakarta, satu tahun sebelum kota ini memasuki usia lima abad. Pemprov DKI Jakarta sedang mendorong Jakarta menjadi kota global yang tetap memiliki karakter budaya.
Dalam Rapat Paripurna DPRD DKI Jakarta memperingati HUT ke-499, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno membacakan pidato Gubernur DKI Jakarta yang menegaskan arah pembangunan Jakarta sebagai kota global.
"Di usianya yang ke-499 tahun, Jakarta terus mengakselerasi langkah menjadi kota global dan pusat perekonomian yang berdaya saing, berkelanjutan, serta menyejahterakan seluruh warganya. Visi ini ditetapkan untuk membawa Jakarta masuk dalam jajaran 50 besar kota global dunia pada 2030," cetusnya.
Dalam konteks itu, festival di Kota Tua menjadi bagian dari upaya memperkuat wajah Jakarta sebagai kota yang bukan hanya modern, tetapi juga punya akar sejarah dan budaya.
Kota global tidak cukup dibangun lewat gedung tinggi, transportasi publik, dan pusat bisnis. Kota global juga membutuhkan ruang publik yang hidup, destinasi budaya yang inklusif, serta aktivitas yang dapat dinikmati warga lintas usia dan latar belakang.
Kota Tua sebagai Destinasi Budaya Inklusif
Denny berharap Jakarta Light Festival dapat memperkuat citra Kota Tua sebagai destinasi budaya yang inklusif, berdaya global, dan menjadi kebanggaan warga Jakarta.
"Kami berharap berbagai event dan kegiatan ini akan memperkuat visi Jakarta menjadi kota global berbudaya. Selamat HUT ke-499 Jakarta," kata Denny.
Harapan itu sejalan dengan peran Kota Tua sebagai ruang sejarah Jakarta. Kawasan ini menyimpan banyak jejak perjalanan kota, mulai dari museum, bangunan tua, ruang publik, hingga komunitas budaya. Namun, agar tidak hanya menjadi kawasan nostalgia, Kota Tua perlu terus dihidupkan dengan kegiatan yang relevan.
Festival cahaya dapat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan masa lalu dan masa kini. Bangunan bersejarah tetap menjadi latar utama, tetapi pengalaman yang ditawarkan lebih modern, visual, dan mudah dibagikan lewat media sosial.
Dengan begitu, Kota Tua dapat menjangkau audiens yang lebih luas. Pengunjung datang bukan hanya untuk belajar sejarah, tetapi juga untuk menikmati seni, musik, kuliner, fotografi, dan suasana kota.
Gratis, Estetik, dan Mudah Diakses
Salah satu kekuatan Jakarta Light Festival adalah aksesnya yang gratis. Di tengah kebutuhan warga akan ruang hiburan yang terjangkau, festival semacam ini memberi alternatif rekreasi publik tanpa beban biaya tiket.
Kawasan Kota Tua juga relatif mudah dijangkau dengan transportasi umum. Hal ini memperkuat daya tarik festival karena pengunjung dari berbagai wilayah Jakarta dan sekitarnya dapat datang tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Kombinasi antara akses gratis, lokasi ikonik, konten visual, musik, dan suasana malam membuat Jakarta Light Festival punya daya tarik kuat. Apalagi, generasi muda cenderung mencari ruang publik yang fotogenik, mudah dijangkau, dan punya potensi menjadi konten media sosial.
Karena itu, festival ini bukan hanya perayaan HUT Jakarta, tetapi juga strategi aktivasi ruang kota. Pemerintah dan pengelola kawasan menggunakan seni, cahaya, dan hiburan untuk menghidupkan kembali ruang sejarah sebagai tempat yang relevan dengan kebiasaan warga hari ini.
Perayaan HUT Jakarta yang Dekat dengan Warga
HUT ke-499 Jakarta tidak hanya dirayakan lewat seremoni resmi. Berbagai kegiatan publik, termasuk Jakarta Light Festival, menjadi cara agar warga dapat merasakan langsung suasana perayaan.
Festival di Kota Tua menunjukkan bahwa perayaan ulang tahun kota bisa dibuat dekat dengan masyarakat. Warga tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi juga ikut hadir, meramaikan, berfoto, bernyanyi, dan menikmati ruang publik.
Dengan 25 ribu pengunjung pada hari pertama, Jakarta Light Festival membuktikan, ruang budaya masih punya daya tarik besar jika dikemas dengan kreatif. Kota Tua berhasil menjadi panggung pertemuan antara sejarah, teknologi, musik, dan budaya populer.
Menjelang usia 500 tahun pada 2027, Jakarta membutuhkan lebih banyak ruang publik yang hidup seperti ini. Kota yang besar tidak hanya diukur dari pusat bisnis dan infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan kebahagiaan, kebanggaan, dan pengalaman bersama bagi warganya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar