periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali melemah pada perdagangan Kamis (15/1/2026) seiring penguatan indeks dolar AS dan sentimen eksternal yang masih mendominasi pasar. Pada penutupan perdagangan sore ini, rupiah tercatat melemah 31 poin ke level Rp16.896 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.865.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa untuk perdagangan Senin depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun tetap ditutup melemah di kisaran Rp16.890-Rp16.920 per dolar AS.
Dari eksternal, ketegangan geopolitik AS dan Iran mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Rabu bahwa ia telah diyakinkan otoritas Iran akan menghentikan pembunuhan terhadap demonstran dan tidak ada rencana eksekusi skala besar. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terkait potensi respons militer AS terhadap aksi protes terhadap pemerintahan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Selain itu, sentimen positif juga datang dari sinyal membaiknya hubungan AS dan Venezuela. Trump mengungkapkan telah berbicara dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, dan menyebut pembicaraan tersebut sangat positif. Diskusi tersebut mencakup minyak, mineral, perdagangan dan, tentu saja, keamanan nasional. Serta disebut telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa dalam membantu Venezuela menstabilkan dan memulihkan ekonominya.
Sentimen pasar turut menguat setelah Trump dalam wawancara dengan Reuters menegaskan tidak berencana memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell, meskipun tengah berlangsung penyelidikan, sehingga meredakan kecemasan investor terkait independensi kebijakan moneter AS.
Dari sisi data ekonomi, laporan Indeks Harga Produsen (PPI) AS bulan Oktober menunjukkan harga produsen masih jauh dari target inflasi 2% The Fed. Meski demikian, pelaku pasar tetap meyakini bank sentral AS akan memangkas suku bunga pada 2026. Data Penjualan Ritel AS yang melampaui perkiraan turut mengindikasikan peningkatan belanja rumah tangga, terutama untuk kendaraan bermotor.
“Hari ini fokus pasar adalah Klaim Pengangguran Awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan bahwa 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Kamis (15/1).
Dari dalam negeri, Ibrahim menyoroti bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional, yang didominasi oleh kelas menengah. Namun, kelompok ini dinilai tengah mengalami tekanan dan bergerak menuju kelompok rentan.
“Perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab, kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi,” kata Ibrahim.
Ia menambahkan, stimulus pemerintah selama ini lebih banyak diarahkan kepada rumah tangga berpenghasilan rendah melalui bantuan sosial, Program Keluarga Harapan (PKH), dan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Sementara bagi kelas menengah, stimulus yang diberikan antara lain insentif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 bagi pekerja sektor padat karya dan pariwisata dengan penghasilan di bawah Rp10 juta per bulan, yang saat ini baru berlaku untuk lima sektor. Antara industri alas kaki, tekstil dan pakaian jadi, furnitur, kulit dan barang dari kulit, serta pariwisata.
“Pemerintah juga perlu untuk memperluas atau memperbanyak bentuk stimulus untuk kalangan menengah. Bahkan perlunya kelompok menengah memperoleh stimulus yang serupa dengan stimulus yang digelontorkan untuk kelompok masyarakat berpengasilan rendah,” pungkas Ibrahim.
Tinggalkan Komentar
Komentar