periskop.id – Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun mengklaim tren penguatan nilai tukar rupiah yang kini bertengger di level Rp16.700 per dolar Amerika Serikat (AS) merupakan respons positif pasar atas terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).

"Saya sampaikan, orang membicarakan, misalkan ketika terjadi pelemahan nilai tukar ke Rp16.900 karena faktor yang sering dibicarakan sebagai rumor (independensi Thomas). Tapi hari ini kita memutuskan (Thomas jadi Deputi BI) Rp16.700 pada saat kita memutuskan Pak Tomi," kata Misbakhun kepada awak media di Jakarta, Senin (26/1).

Klaim tersebut didukung oleh data perdagangan pasar spot sore ini. Mata uang garuda tercatat menutup hari dengan apresiasi sebesar 38 poin di level Rp16.782, setelah sebelumnya sempat menguat lebih tinggi hingga 50 poin.

Politisi Partai Golkar ini menyoroti momentum saat Thomas menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test). Menurutnya, justru pada saat krusial itulah rupiah menunjukkan pergerakan positif menjauhi level psikologis Rp17.000.

Ia menegaskan fakta pasar ini lebih valid dibandingkan rumor-rumor yang beredar mengenai keraguan terhadap independensi bank sentral jika dimasuki unsur pemerintah.

"Pada saat Pak Tomi mau fit and proper, Rupiah justru menguat. Rp16.700. Tapi kan what matters gitu. Itu yang terjadi. Tapi faktanya kan itu yang terjadi," ucapnya menegaskan.

Pernyataan Misbakhun ini seolah menjadi antitesis dari kekhawatiran publik sebelumnya. Isu pencalonan Thomas sempat dituding sebagai biang kerok pelemahan rupiah beberapa waktu lalu.

Namun, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya telah membantah keras anggapan tersebut. Ia memastikan volatilitas kurs tidak berkaitan dengan proses politik pemilihan pejabat BI.

Purbaya menjelaskan tekanan terhadap mata uang nasional sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum nama Thomas mencuat ke publik sebagai kandidat kuat Deputi Gubernur BI.

"Rupiah melemah sebelum Pak Thomas ditunjuk, jadi itu bukan isu. Ada faktor lain," tegas Purbaya pada Kamis (22/1) lalu.

Pemerintah memastikan sinergi dengan otoritas moneter tetap solid. Purbaya optimistis Bank Indonesia memiliki amunisi strategi yang mumpuni untuk meredam gejolak pasar dan menjaga stabilitas makroekonomi ke depan.