Periskop.id - PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) membukukan laba bersih sebesar Rp2,97 triliun pada semester I-2026. Angka ini tumbuh 37,7% dibandingkan Rp2,16 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan laba tersebut terutama ditopang oleh keuntungan dari penjualan unit bisnis yang dihentikan perseroan. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, kontribusi dari operasi yang dihentikan melesat signifikan dibandingkan tahun lalu.

Penjualan bersih perseroan tercatat Rp16,9 triliun, naik 7,05% secara tahunan dari Rp15,79 triliun pada semester I-2025. Segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh menyumbang Rp12,36 triliun, sementara segmen makanan dan minuman berkontribusi Rp4,53 triliun.

Kenaikan penjualan turut mengerek beban pokok penjualan menjadi Rp9,02 triliun dari sebelumnya Rp8,17 triliun. Laba bruto perseroan pun hanya tumbuh tipis, dari Rp7,62 triliun menjadi Rp7,87 triliun.

Dari sisi beban operasional, beban pemasaran dan penjualan relatif stabil di kisaran Rp3,67 triliun, sedikit menurun dari Rp3,68 triliun. Beban umum dan administrasi justru melonjak dari Rp1,40 triliun menjadi Rp1,67 triliun.

Perseroan juga mencatat penghasilan lain-lain neto sebesar Rp54,79 miliar, berbalik dari beban lain-lain neto Rp2,22 miliar pada tahun sebelumnya. Kondisi ini turut mengangkat laba usaha menjadi Rp2,59 triliun dari Rp2,54 triliun.

Pada pos non-operasional, penghasilan keuangan melonjak menjadi Rp74,55 miliar dari sebelumnya Rp3,96 miliar. Sebaliknya, biaya keuangan turun tajam dari Rp67,18 miliar menjadi Rp14,64 miliar.

Akumulasi berbagai pos tersebut membuat laba sebelum pajak penghasilan naik jadi Rp2,65 triliun dari Rp2,48 triliun. Setelah dikurangi beban pajak sebesar Rp566,09 miliar yang turun dari Rp588,10 miliar, laba dari operasi yang dilanjutkan tercatat Rp2,08 triliun, naik dari Rp1,89 triliun.

Faktor utama pendongkrak laba bersih secara keseluruhan datang dari kontribusi operasi yang dihentikan. Meski laba dari operasi yang dihentikan turun jadi Rp17,59 miliar dari Rp266,93 miliar tahun lalu, perseroan membukukan laba penjualan operasi yang dihentikan sebesar Rp870,27 miliar, pos yang tidak tercatat pada periode sebelumnya.

Total laba dari operasi yang dihentikan setelah pajak pun melonjak menjadi Rp887,86 miliar dari sebelumnya Rp266,93 miliar. Kombinasi laba dari operasi berjalan dan operasi yang dihentikan itulah yang mendorong laba bersih UNVR menembus Rp2,97 triliun.

Untuk laba per saham dasar, UNVR mencatatkan Rp55 per saham dari operasi yang dilanjutkan, naik dari Rp50 per saham pada tahun sebelumnya. Laba per saham dari operasi yang dihentikan tercatat Rp23 per saham, melonjak dari Rp7 per saham pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi neraca, total aset UNVR tercatat Rp16,45 triliun per semester I-2026, menurun dari Rp20 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas dan ekuitas perseroan masing-masing berada di posisi Rp13,43 triliun dan Rp3,02 triliun per akhir Juni 2026.