Periskop.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) melalui akun Instagram resminya, @lpemfebui, merilis hasil kajian menarik mengenai estimasi total emisi gas buang dari rangkaian perjalanan dinas luar negeri Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan data yang dihimpun sejak awal masa jabatannya pada Oktober 2024, total emisi yang dihasilkan dari kunjungan kenegaraan tersebut diperkirakan mencapai 10.002,72 ton karbon dioksida (CO2).
Angka tersebut dinilai sangat fantastis untuk ukuran emisi yang dihasilkan oleh satu orang individu. Untuk memberikan gambaran bagi masyarakat awam, jumlah emisi ini setara dengan sekitar 3.500 kali lipat dari rata-rata emisi tahunan yang dihasilkan oleh seorang warga negara Indonesia biasa.
Mengapa Isu Emisi Penerbangan Sangat Penting?
Sebelum menelisik angka kunjungan Presiden lebih jauh, masyarakat perlu memahami mengapa sektor transportasi udara menjadi sorotan global dalam isu perubahan iklim. Industri penerbangan merupakan salah satu penyumbang emisi terbesar di bumi. Sebelum masa pandemi, sektor ini menyumbang sekitar 2,5 persen dari total emisi karbon dioksida global.
Bahkan, kontribusi merusak tersebut melonjak menjadi 3,5% hingga 4% jika turut menghitung efek non karbon dioksida. Efek non karbon dioksida ini mencakup terbentuknya contrail atau asap putih tipis menyerupai awan yang sering kita lihat tertinggal di belakang pesawat terbang tinggi, serta emisi gas Nitrogen Oksida (NOx) di lapisan langit atas. Kedua unsur ini menciptakan pemanasan tambahan di atmosfer bumi yang kerap luput dari perhitungan kalkulasi emisi karbon biasa.
Kajian LPEM FEB UI membeberkan tiga alasan mendasar mengapa industri penerbangan sangat sulit untuk didekarbonisasi atau dihijaukan.
Pertama adalah masalah fisika bahan bakar. Avtur selaku bahan bakar pesawat saat ini mampu menyimpan energi 40 kali lebih banyak dibandingkan teknologi baterai tercanggih yang ada sekarang.
Akibatnya, belum ditemukan teknologi pengganti energi yang pas untuk penerbangan jarak jauh. Jika dipaksakan menggunakan baterai listrik saat ini, ukuran baterai akan menjadi terlalu besar dan berat sehingga pesawat justru tidak akan bisa terbang.
Alasan kedua adalah efisiensi teknologi yang kalah cepat dengan lonjakan permintaan pasar. Mesin pesawat modern memang semakin hemat bahan bakar sekitar 1% hingga 2% per tahun, namun jumlah penumpang pesawat secara global justru melonjak jauh lebih cepat, yaitu sekitar 4% hingga 5% per tahun.
Alasan ketiga adalah dampak akumulasi gas buang di lapisan langit atas seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Belajar dari Kasus Jet Pribadi Taylor Swift
Dalam industri yang padat karbon ini, banyak orang tidak menyadari bahwa setiap perjalanan udara yang mereka lakukan ikut menyumbang kerusakan lingkungan.
Dampak ini menjadi berkali-kali lipat lebih buruk pada penggunaan pesawat jet pribadi atau penerbangan carter khusus. Sebab, emisi gas buang dari bahan bakar yang dihabiskan sepanjang perjalanan tidak dibagi dengan ratusan penumpang lain layaknya pesawat komersial biasa.
Sebagai contoh nyata yang sempat viral, penyanyi internasional Taylor Swift menuai kritik tajam dari warganet global lantaran jet pribadinya tercatat menghasilkan total emisi sebesar 8.300 ton karbon dioksida sepanjang tahun 2022.
LPEM FEB UI kemudian menggunakan metode hitungan yang setara untuk melacak jejak karbon dari agenda perjalanan luar negeri orang nomor satu di Indonesia.
Rekam Jejak Jadwal Kunjungan Kerja Presiden
Terhitung sejak resmi menjabat dan memulai kunjungan kenegaraan pertamanya pada Oktober 2024, Presiden Prabowo tercatat memiliki jadwal kerja luar negeri yang cukup padat.
Sang Kepala Negara telah melakukan sebanyak 54 kali kunjungan dengan menyambangi 29 negara yang berbeda. Rangkaian perjalanan tersebut terbagi ke dalam total 83 leg atau rute penerbangan terpisah.
Dari puluhan negara yang dikunjungi, terdapat beberapa wilayah yang paling sering didatangi oleh Presiden Prabowo. Negara tetangga Malaysia menempati urutan pertama dengan frekuensi sebanyak 5 kali kunjungan. Menyusul di belakangnya adalah Prancis dan Inggris yang masing-masing dikunjungi sebanyak 4 kali, serta Rusia dan Brasil dengan masing-masing sebanyak 3 kali kunjungan.
Frekuensi terbang berjarak ribuan kilometer inilah yang dijadikan basis data perhitungan dalam kajian ini.
Jenis Pesawat dan Skema Perhitungan Emisi
Untuk terbang menjelajahi berbagai belahan dunia, terdapat tiga jenis armada pesawat udara yang digunakan oleh rombongan kepresidenan. Tipe pertama adalah Boeing 737-700 BBJ yang digunakan dalam 41 rute penerbangan dengan rata-rata kecepatan jelajah 850 kilometer per jam dan konsumsi bahan bakar 2.720 kilogram per jam.
Tipe kedua adalah pesawat berbadan lebar Boeing 777-300ER yang digunakan dalam 38 rute dengan rata-rata kecepatan 905 kilometer per jam dan konsumsi bahan bakar mencapai 8.100 kilogram per jam.
Tipe terakhir adalah Airbus A330-200 carteran Comlux yang digunakan dalam 4 rute dengan kecepatan rata-rata 871 kilometer per jam dan konsumsi bahan bakar 5.850 kilogram per jam.
LPEM FEB UI mengadopsi metode ilmiah yang dirumuskan oleh penelitian Bansal (2021) untuk mengestimasi angka emisi gas buang secara presisi per rute penerbangan. Langkah pertama dimulai dengan menandai titik koordinat bandara keberangkatan (take-off) dan bandara tujuan (landing).
Jarak antarbandara tersebut dihitung menggunakan formula Great-circle distance (GCD) lewat metode Haversine untuk mencari jarak terpendek di lengkungan permukaan bumi. Angka jarak tersebut kemudian ditambah 10% guna memperhitungkan rute manuver pengaturan lalu lintas udara (routing ATC) dan kondisi tidak terduga lainnya di lapangan.
Setelah jarak tempuh final didapatkan, angka tersebut dibagi dengan rata-rata kecepatan jelajah pesawat untuk menemukan total waktu terbang. Waktu terbang ini selanjutnya dikalikan dengan rata-rata konsumsi bahan bakar per jam berdasarkan jenis pesawat yang dipakai, sehingga diperoleh total bahan bakar yang dihabiskan.
Pada langkah akhir, total konsumsi bahan bakar dikalikan dengan faktor emisi standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), yaitu sebesar 3,16 kilogram CO2 untuk setiap 1 kilogram avtur yang dibakar.
Menakar Besarnya Angka 10 Ribu Ton Karbon Dioksida
Berdasarkan rumus tersebut, akumulasi emisi perjalanan dinas luar negeri Presiden Prabowo mencapai 10.002,72 ton CO2.
Catatan rekor pengeluaran emisi bulanan tertinggi terjadi pada September 2025. Hanya dalam kurun waktu satu bulan tersebut, Presiden melakukan penerbangan sebanyak 10 rute ke 7 negara berbeda, mulai dari Doha hingga Amerika Serikat, yang menghasilkan 1.609 ton CO2.
Untuk memberikan perspektif seberapa masif dampak lingkungan dari angka tersebut, kajian ini memaparkan tiga analogi perbandingan ilmiah. Pertama, angka tersebut 3.500 kali lebih tinggi dari rata-rata emisi tahunan satu orang warga Indonesia yang hanya menghasilkan sekitar 2,87 ton CO2 per tahun serta lebih dari 2.400 kali lipat lebih tinggi dari emisi tahunan rata-rata per kapita global sebesar 4,7 ton CO2 per tahun.
Analogi kedua, bumi membutuhkan lebih dari 400 ribu pohon dewasa yang tumbuh selama satu tahun penuh hanya untuk menyerap habis seluruh volume gas CO2 yang dikeluarkan dari penerbangan dinas tersebut.
Analogi ketiga ditinjau dari sudut pandang finansial menggunakan indikator nilai ekonomi karbon. Jika emisi gas buang tersebut diuangkan menggunakan standar Izin Karbon Uni Eropa per tanggal 29 Mei 2026 yang berada di angka 80,63 Euro per ton, nilai kerusakan lingkungan dari total emisi penerbangan ini setara dengan dana sebesar Rp16,53 miliar, dengan asumsi kurs 1 Euro sama dengan Rp20.500.
Solusi Jangka Panjang dan Langkah Nyata Hari Ini
Pihak LPEM FEB UI menekankan bahwa sorotan ini bukanlah sekadar kritik terhadap agenda kunjungan kerja Presiden semata. Kasus ini diangkat sebagai jendela edukasi bagi publik bahwa setiap aktivitas penerbangan memicu dampak lingkungan yang nyata berupa beban emisi yang kerap luput dari perhatian kita.
Dunia penerbangan global sebetulnya telah mengupayakan sejumlah alternatif solusi, mulai dari riset penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang ramah lingkungan, hingga pengembangan desain bodi pesawat yang jauh lebih efisien.
Namun, solusi teknologi tersebut masih terkendala jangka waktu implementasi yang lama. Saat ini, ketersediaan SAF masih sangat terbatas dan mahal, di mana produksinya baru menyentuh angka 1,9 juta liter atau cuma mampu memenuhi 0,6% dari total kebutuhan industri penerbangan di seluruh dunia.
Sebagai penutup, kajian ini menitipkan pesan bahwa langkah paling konkret dan rasional yang bisa diambil hari ini oleh siapa pun, termasuk oleh para pejabat pembuat kebijakan negara, adalah berkomitmen untuk memilih moda transportasi alternatif yang lebih rendah emisi jika memungkinkan serta bijak dalam bepergian dengan skala secukupnya saja.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar