periskop.id – Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial, Solikin M. Juhro, menegaskan bahwa independensi bank sentral harus dipahami secara utuh dalam bingkai kerja sama atau interdependensi dengan pihak terkait, bukan sebagai lembaga yang bekerja dalam ruang hampa.
“Harus dimaknai secara utuh bahwasannya kita itu berada dalam konteks independensi tapi di dalam interdependensi. Jadi kita gak mungkin di dalam suasana atau kompleksitas permasalahan yang kita hadapi ini kita bekerja sendiri, gak mungkin gitu,” kata Solikin kepada awak media di Jakarta, Jumat (23/1).
Pernyataan ini muncul di tengah sorotan publik terhadap proses seleksi Deputi Gubernur BI. Perhatian masyarakat tertuju pada masuknya nama Wakil Menteri Keuangan, Thomas Djiwandono, yang juga keponakan Presiden Prabowo Subianto, sebagai salah satu dari tiga kandidat.
Solikin menilai kompleksitas tantangan ekonomi global dan domestik saat ini menuntut adanya kolaborasi erat. Isolasi kebijakan justru dinilai tidak relevan dalam menghadapi dinamika yang ada.
Ia memastikan sejauh ini tidak ada isu miring yang mengancam kedaulatan BI dalam mengambil kebijakan. Pihaknya tetap berkomitmen penuh mengawal independensi lembaga sesuai amanat undang-undang.
Kunci utama menjaga stabilitas, menurut Solikin, terletak pada komunikasi dan koordinasi yang intensif dengan pemerintah serta otoritas terkait lainnya tanpa mengorbankan prinsip dasar bank sentral.
“Kita harus melakukan koordinasi penguatan sinergi dengan pemerintah dengan otoritas yang terkait. Jadi itu poinnya. Selama yang kita hadapi sekarang ini tidak ada isu terhadap independensi Bank Indonesia dan kita tetap mengawal independensi itu sesuai dengan mandat undang-undang,” terangnya.
Mengenai persaingan memperebutkan kursi Deputi Gubernur BI, Solikin mengaku tidak gentar meski harus berhadapan dengan kandidat kuat dari unsur pemerintah.
Ia memilih fokus pada kapasitas diri dan menyerahkan hasil akhirnya pada proses seleksi yang berjalan serta takdir Tuhan.
“Yang saya pegang jadi saya akan do my best gitu ya. Kita lakukan sesuatu yang terbaik, selebihnya itu adalah nanti urusan Yang Mahakuasa, mana yang terbaik menurut Yang Mahakuasa,” tutup Solikin dengan nada optimistis.
Sebagai informasi, tiga nama telah diajukan Presiden untuk menjalani uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di DPR RI, yakni Solikin M. Juhro, Thomas Djiwandono, dan satu kandidat lainnya dari internal BI.
Tinggalkan Komentar
Komentar